Laporan Khusus: Puslitbang tekMIRA (Bagian 1)
Pada tanggal 30 April 2008, beberapa kontributor Majari mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Puslitbang tekMIRA (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara), suatu badan yang lahir dari penggabungan Balai Penelitian Tambang dan Pengolahan Bahan Galian dengan Akademi Geologi dan Pertambangan, pada 11 November 1976. Sebelum dikenal dengan sebutan Puslitbang tekMIRA, institusi ini bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral (P3TM) sebagai perubahan dari nama Pusat Penelitian Teknologi Mineral (PPTM) yang waktu itu berada di bawah Direktorat Jenderal Pertambangan Umum (DJPU), Departemen Pertambangan dan Energi (DPE) Republik Indonesia. Banyak karya nyata yang telah dihasilkan untuk kepentingan pengembangan usaha di subsektor mineral dan batubara, serta tidak sedikit kontribusi yang diberikan untuk mendukung kebijakan DJPU maupun DPE.
Kunjungan ke Puslitbang tekMIRA diawali dengan presentasi berjudul “Kesiapan Teknologi Pemanfaatan Batubara” yang menjelaskan tentang pemanfaatan batubara yang dapat dilakukan secara tidak langsung, seperti misalnya melalui upgrading batubara dengan proses UBC (Upgrading Brown Coal), coal washing, dan CWF (Coal-Water Mixture Fuel) atau melalui konversi batubara ke dalam bentuk lainnya melalui gasifikasi, likuefaksi, serta pembriketan, dan juga secara langsung seperti dalam combustion power plant, cyclone burner, pulverized combustion, dan fluidized bed combustion. Acara dilanjutkan dengan presentasi kedua yang berjudul “Analisis/Pengujian Sifat Fisika dan Kimia Batubara” yang berisi penjelasan tentang metode-metode yang digunakan dalam menentukan sifat kimia batubara (analisis ultimat, proksimat, nilai kalor, komposisi abu, dan titik leleh abu) serta sifat fisika batubara (HGI - Hardgrove Grindability Index, FSI - Free Swelling Index, dan TSG - True Specific Gravity).
Puslitbang tekMIRA memiliki beberapa unit-unit peralatan pengolahan batubara. Sebagian besar alat-alat tersebut tidak lagi difungsikan dan hanya disimpan untuk keperluan kunjungan namun beberapa alat masih dapat dioperasikan untuk keperluan penelitian.
- Unit penyiapan batubara
Peralatan-peralatan pada unit ini berfungsi untuk mempersiapkan batubara sebelum diolah lebih lanjut. Dalam unit ini, batubara mendapat beberapa perlakuan, yaitu:
- Pengecilan ukuran menggunakan jaw crusher hingga ukuran 4 mesh
- Pengecilan ukuran menggunakan hammer mill hingga ukuran 8 mesh
- Pengecilan ukuran hingga didapat sampel batubara berukuran -60 mesh dan -14+28 mesh
- Pengeringan
Di dalam unit pengolahan batubara nyata, perpindahan batubara dari satu alat ke alat lainnya dilakukan dengan conveyor belt atau dengan pneumatic conveyor.
- Unit pembuatan briket batubara
Proses pembuatan briket batubara tergambar dengan jelas dalam unit ini. Proses inti pembuatan briket batubara diawali dengan sebuah alat pembriketan (Gambar 2 kiri) dan dilanjutkan dengan alat pencetak briket (Gambar 2 kanan atau Gambar 3 kiri). Briket batubara yang telah dicetak dengan cetakan oval memiliki bentuk seperti yang terlihat pada Gambar 3 kanan. Briket batubara memiliki berbagai macam bentuk tergantung alat cetakan yang digunakan. - Unit gasifikasi dan pembakaran
Selain pembuatan briket batubara, Puslitbang tekMIRA juga memiliki reaktor gasifikasi batubara. Tujuan utama dari proses gasifikasi ialah mengkonversi batubara menjadi gas sintesis (CO dan H2). Selain itu, terdapat juga cyclone burner, sebuah alat yang berfungsi sebagai combustion chamber yang memungkinkan kemudahan penggantian bahan bakar boiler dalam pabrik menjadi bahan bakar batubara. Berikut ini merupakan gambar dari reaktor gasifikasi dan cyclone burner. - Unit pencairan batubara
Hingga saat ini, Puslitbang tekMIRA masih terus melakukan penelitian untuk menemukan konfigurasi dan kondisi operasi yang optimal mengenai teknologi likuefaksi batubara. Dalam penelitian Puslitbang tekMIRA, metode likuefaksi batubara yang digunakan ialah metoda likuefaksi secara langsung. Batubara, katalis, dan pelarut (solvent) dimasukkan ke dalam bejana. Selain itu, sejumlah tertentu gas hidrogen juga dialirkan ke dalam bejana. Bejana ini kemudian dipanaskan hingga temperatur 450°C dan tekanan 250 bar dalam sebuah heater seperti pada Gambar 5. Setelah proses likuefaksi berlangsung, bejana didinginkan dan gas hidrogen dikeluarkan sedikit demi sedikit. Hasil akhir proses likuefaksi ini ialah hidrokarbon cair (CSO - Crude Synthetic Oil) yang komposisinya mirip dengan minyak bumi.
Anda tertarik mengetahui berbagai peralatan untuk menganalisa dan mengkarakterisasi batubara? Silakan tunggu artikel selanjutnya!
Bersambung (Analisis dan Karakterisasi Batubara)
Artikel oleh Wahyu Hidayat. Fotografi oleh Michael Hutagalung.











Dengan hormat,
Sehubungan dengan informasi mesin pencetak briket batu bara model sarang lebah, kami tertarik.
Sekiranya kami mohon informasi yg jelas mengenai cara kerja alat tersebut, terimakasih.
t.t.d
Ali Maghfur
ckckckckcckckckckck salut dah untuk kalian niat banget ke PPTM..
mantap mantap!
Ali Maghfur - mungkin pemesanan mesin pencetak briket batubara dapat dilakukan dengan menghubungi Puslitbang tekMIRA secara langsung.. alamatnya di:
Jl. Jend Sudirman 623, Bandung 40211
Telepon : (022) 6030483 - 5
Faksimile : (022) 6003373
E-mail : info@tekmira.esdm.go.id
Website : http://www.tekmira.esdm.go.id
dave - hahaha.. iya dong kita emang niat banget.. jangan lupa terus berkunjung ya, dave! jgn lupa ke forum juga. hehe..
boleh tau info ttg ratio nilai ekonomis briket vs minyak tanah utk kebutuhan rumah tangga/memasak?
hehehhehehe iya dong dave, sekalian memperdalam ilmu..
@yusqi
dari penjelasan di tekMIRA kmaren, untuk penggunaan briket itu biaya terbesar adalah untuk pembriketannya sendiri sudah sekitar 35% dari biaya total.. mungkin bisa dijadikan patokan..
wihh mantep oyy
thank’s ilmunya…eh tp klo batubara dicairkan pengaruhnya sama green house effect piye?sama nda ky’ batubara biasa????:-)
MAU tanya lagi pak, klo prosentase campuran CaCO3 untuk menghilangkan sulfur dalam batubara tuh berapa ya pak?
Leave your comment!
1 Trackback/Pingback »
More articles from this category:
More articles from this author:
Quotes of the Day »
"The engineer's first problem in any design situation is to discover what the problem really is."
Artikel Terbaru »
Research Project of the University of Maastricht
CHE Softwares: Free, Demo, and Sharewares
CHE Around Us: Refrigerators
Event: Engineer’s Week (Pekan Insinyur)
Biogasification of Lignite Coal
Gasifikasi Batubara dengan Unggun Terfluidakan
Pembakaran Batubara dengan O2/CO2
IGCC: Major IGCC Sections (2)
IGCC: Technology Overview (1)
Sulphur Oxide from Coal
Komentar Terbaru »
Penggunaan Jamur Lapuk Putih dalam Penghilangan Warna Limbah Tekstil (10)
Teknologi Pengolahan Sampah (26)
Co-production of Bioethanol (80)
Working in the Oil and Gas Industry (58)
HSP Huygens Scholarship (1)
Pertamina versus Petronas (32)
Majari at Flickr »
Topik Populer »
biodiesel biomass biotechnology business catalyst chemistry coal consultant energy equipments Event food fuel cell geothermal global warming green Indonesia life materials membrane nanotechnology oil and gas press release process control process design products reaction safety separation software students universities waste treatmentWeb Links
University Links
Arsip »
Majari Networks
Browse categories
Most Popular
Most Discussed
Most Emailed