Gasifikasi Batubara dengan Unggun Terfluidakan
Apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar kata ‘gasifikasi’? Pembuatan gas kah? Tepat! Secara singkat, gasifikasi dapat diartikan sebagai pembuatan gas, sedangkan definisi gasifikasi yang sebenarnya adalah proses konversi bahan bakar yang mengandung karbon (baik padat maupun cair) menjadi gas yang memiliki nilai bakar dengan cara oksidasi parsial pada temperatur tinggi.
Di bidang teknik kimia, gasifikasi digunakan sebagai teknik untuk mengkonversi bahan bakar padat menjadi gas. Gas yang dihasilkan pada gasifikasi disebut gas produser yang kandungannya didominasi oleh gas CO, H2, dan CH4. Bahan bakar yang umum digunakan pada gasifikasi adalah bahan bakar padat, salah satunya adalah batubara. Jika ditinjau dari produk yang dihasilkan, pengolahan batubara dengan gasifikasi lebih menguntungkan dibandingkan pengolahan dengan pembakaran langsung. Dengan teknik gasifikasi, produk pengolahan batubara lebih bersifat fleksibel karena dapat diarahkan menjadi bahan bakar gas atau bahan baku industri kimia yang tentunya memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Untuk melangsungkan gasifikasi diperlukan suatu suatu reaktor. Reaktor tersebut dikenal dengan nama gasifier. Ketika gasifikasi dilangsungkan, terjadi kontak antara bahan bakar dengan medium penggasifikasi di dalam gasifier. Kontak antara bahan bakar dengan medium tersebut menentukan jenis gasifier yang digunakan. Secara umum pengontakan bahan bakar dengan medium penggasifikasinya pada gasifier dibagi menjadi tiga jenis, yaitu entrained bed, fluidized bed, dan fixed/moving bed. Perbandingan ketiga jenis gasifier tersebut ditampilkan pada Tabel 1.
| Parameter | Fixed/Moving Bed | Fluidized Bed | Entrained Bed |
|---|---|---|---|
| Ukuran umpan | < 51 mm | < 6 mm | < 0.15 mm |
| Toleransi kehalusan partikel | Terbatas | Baik | Sangat baik |
| Toleransi kekasaran partikel | Sangat baik | Baik | Buruk |
| Toleransi jenis umpan | Batubara kualitas rendah | Batubara kualitas rendah dan biomassa | Segala jenis batubara, tetapi tidak cocok untuk biomassa |
| Kebutuhan oksidan | Rendah | Menengah | Tinggi |
| Kebutuhan kukus | Tinggi | Menengah | Rendah |
| Temperatur reaksi | 1090 °C | 800 - 1000 °C | > 1990 °C |
| Temperatur gas keluaran | 450 - 600 °C | 800 - 1000 °C | > 1260 °C |
| Produksi abu | Kering | Kering | Terak |
| Efisiensi gas dingin | 80% | 89.2% | 80% |
| Kapasitas penggunaan | Kecil | Menengah | Besar |
| Permasalahan | Produksi tar | Konversi karbon | Pendinginan gas produk |
Pada pembahasan ini, teknik gasifikasi yang akan dibahas adalah gasifikasi unggun terfluidakan. Jika dibandingkan dengan jenis gasifikasi lainnya, gasifikasi unggun terfluidakan memiliki beberapa keunggulan, di antaranya adalah:
- mampu memproses bahan baku berkualitas rendah,
- kontak antara padatan dan gas bagus,
- luas permukaan reaksi besar sehingga reaksi dapat berlangsung dengan cepat,
- efisiensi tinggi, dan
- emisi rendah.
Reaksi pada Gasifikasi Unggun Terfluidakan
Gasifikasi umumnya terdiri dari empat proses, yaitu pengeringan, pirolisis, oksidasi, dan reduksi. Pada gasifier jenis unggun terfluidakan, kontak yang terjadi saat pencampuran antara gas dan padatan sangat kuat sehingga perbedaan zona pengeringan, pirolisis, oksidasi, dan reduksi tidak dapat dibedakan. Salah satu cara untuk mengetahui proses yang berlangsung pada gasifier jenis ini adalah dengan mengetahui rentang temperatur masing-masing proses, yaitu:
- Pengeringan: T > 150 °C
- Pirolisis/Devolatilisasi: 150 < T < 700 °C
- Oksidasi: 700 < T < 1500 °C
- Reduksi: 800 < T < 1000 °C
Proses pengeringan, pirolisis, dan reduksi bersifat menyerap panas (endotermik), sedangkan proses oksidasi bersifat melepas panas (eksotermik). Pada pengeringan, kandungan air pada bahan bakar padat diuapkan oleh panas yang diserap dari proses oksidasi. Pada pirolisis, pemisahan volatile matters (uap air, cairan organik, dan gas yang tidak terkondensasi) dari arang atau padatan karbon bahan bakar juga menggunakan panas yang diserap dari proses oksidasi. Pembakaran mengoksidasi kandungan karbon dan hidrogen yang terdapat pada bahan bakar dengan reaksi eksotermik, sedangkan gasifikasi mereduksi hasil pembakaran menjadi gas bakar dengan reaksi endotermik. Penjelasan lebih lanjut mengenai proses-proses tersebut disampaikan pada uraian berikut ini.
Pirolisis
Pirolisis atau devolatilisasi disebut juga sebagai gasifikasi parsial. Suatu rangkaian proses fisik dan kimia terjadi selama proses pirolisis yang dimulai secara lambat pada T < 350 °C dan terjadi secara cepat pada T > 700 °C. Komposisi produk yang tersusun merupakan fungsi temperatur, tekanan, dan komposisi gas selama pirolisis berlangsung. Proses pirolisis dimulai pada temperatur sekitar 230 °C, ketika komponen yang tidak stabil secara termal, seperti lignin pada biomassa dan volatile matters pada batubara, pecah dan menguap bersamaan dengan komponen lainnya. Produk cair yang menguap mengandung tar dan PAH (polyaromatic hydrocarbon). Produk pirolisis umumnya terdiri dari tiga jenis, yaitu gas ringan (H2, CO, CO2, H2O, dan CH4), tar, dan arang. Secara umum reaksi yang terjadi pada pirolisis beserta produknya adalah:

Oksidasi (Pembakaran)
Oksidasi atau pembakaran arang merupakan reaksi terpenting yang terjadi di dalam gasifier. Proses ini menyediakan seluruh energi panas yang dibutuhkan pada reaksi endotermik. Oksigen yang dipasok ke dalam gasifier bereaksi dengan substansi yang mudah terbakar. Hasil reaksi tersebut adalah CO2 dan H2O yang secara berurutan direduksi ketika kontak dengan arang yang diproduksi pada pirolisis. Reaksi yang terjadi pada proses pembakaran adalah:
Reaksi pembakaran lain yang berlangsung adalah oksidasi hidrogen yang terkandung dalam bahan bakar membentuk kukus. Reaksi yang terjadi adalah:
Reduksi (Gasifikasi)
Reduksi atau gasifikasi melibatkan suatu rangkaian reaksi endotermik yang disokong oleh panas yang diproduksi dari reaksi pembakaran. Produk yang dihasilkan pada proses ini adalah gas bakar, seperti H2, CO, dan CH4. Reaksi berikut ini merupakan empat reaksi yang umum telibat pada gasifikasi.
- Water-gas reaction
Water-gas reaction merupakan reaksi oksidasi parsial karbon oleh kukus yang dapat berasal dari bahan bakar padat itu sendiri (hasil pirolisis) maupun dari sumber yang berbeda, seperti uap air yang dicampur dengan udara dan uap yang diproduksi dari penguapan air. Reaksi yang terjadi pada water-gas reaction adalah:C + H2O -> H2 + CO – 131.38 kJ/kg mol karbon Pada beberapa gasifier, kukus dipasok sebagai medium penggasifikasi dengan atau tanpa udara/oksigen.
- Boudouard reaction
Boudouard reaction merupakan reaksi antara karbondioksida yang terdapat di dalam gasifier dengan arang untuk menghasilkan CO. Reaksi yang terjadi pada Boudouard reaction adalah:CO2 + C -> 2CO – 172.58 kJ/mol karbon - Shift conversion
Shift conversion merupakan reaksi reduksi karbonmonoksida oleh kukus untuk memproduksi hidrogen. Reaksi ini dikenal sebagai water-gas shift yang menghasilkan peningkatan perbandingan hidrogen terhadap karbonmonoksida pada gas produser. Reaksi ini digunakan pada pembuatan gas sintetik. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:CO + H2O -> CO2 + H2 – 41.98 kJ/mol - Methanation
Methanation merupakan reaksi pembentukan gas metan. Reaksi yang terjadi pada methanation adalah:C + 2H2 -> CH4 + 74.90 kJ/mol karbon Pembentukan metan dipilih terutama ketika produk gasifikasi akan digunakan sebagai bahan baku indsutri kimia. Reaksi ini juga dipilih pada aplikasi IGCC (Integrated Gasification Combined-Cycle) yang mengacu pada nilai kalor metan yang tinggi.
Gasifikasi Unggun Terfluidakan
Gasifikasi unggun terfluidakan dioperasikan dengan cara memfluidisasi partikel bahan bakar dengan gas pendorong yang berupa udara/oksigen, baik dicampur dengan kukus maupun tidak dicampur. Gas pendorong tersebut memiliki dua fungsi, yaitu sebagai reaktan dan sebagai medium fluidisasi. Pada gasifikasi unggun terfluidakan, gas pendorong yang umum digunakan adalah udara. Pada gasifier jenis ini, udara dan bahan bakar tercampur pada unggun yang terdiri dari padatan inert berupa pasir. Keberadaan padatan inert tersebut sangat penting karena berfungsi sebagai medium penyimpan panas.
Gasifikasi unggun terfluidakan dioperasikan pada temperatur relatif rendah, yaitu 800 – 1000 °C. Temperatur operasi tersebut berada di bawah temperatur leleh abu sehingga penghilangan abu yang dihasilkan pada gasifikasi jenis ini lebih mudah. Hal inilah yang menyebabkan gasifikasi unggun terfluidakan dapat digunakan pada pengolahan bahan bakar dengan kandungan abu tinggi sehingga rentang penerapan gasifikasi unggun terfluidakan lebih luas daripada gasifikasi jenis lainnya. Gasifier unggun terfluidakan memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan gasifier jenis lainnya, yaitu:
- Rentang penanganan jenis bahan bakar lebar
- Tingkat perpindahan panas dan massa bahan bakar tinggi
- Nilai pemanasan tinggi
- Kadar arang rendah
Jenis Gasifikasi Unggun Terfluidakan
Berdasarkan proses kontak antara gas dengan partikel bahan bakar, gasifier unggun terfluidakan dibagi menjadi dua jenis, yaitu Bubbling Fluidized Bed Gasifier (BFBG) dan Circulating Fluidized Bed Gasifier (CFBG). Pada penggunaannya, CFBG lebih unggul daripada BFBG. Hal ini disebabkan oleh:
- Adanya saluran sirkulasi yang memungkinkan pengolahan kembali bahan bakar yang belum terkonversi. Dengan adanya saluran sirkulasi tersebut, waktu tinggal bahan bakar di dalam gasifier lebih lama sehingga memungkinkan bahan bakar terkonversi sempurna.
- Laju alir udara yang digunakan pada CFBG lebih besar. Kecepatan yang digunakan pada CFBG (4 – 7 m/s), sedangkan kecepatan yang digunakan pada BFB (1 – 1.5 m/s). Hal ini menyebabkan kecepatan kontak antara gas dengan padatan yang terjadi pada CFBG tinggi sehingga pencampuran massa dan perpindahan panas yang terjadi lebih baik daripada BFBG.
Penggunaan Gasifikasi Unggun Terfluidakan
Gasifikasi unggun terfluidakan dapat digunakan untuk mengolah bahan bakar dengan rentang yang lebar khususnya bahan bakar kualitas rendah dengan kandungan abu tinggi sehingga cocok digunakan untuk meningkatkan kualitas bahan bakar bernilai rendah. Pada umumnya, gas hasil gasifikasi unggun terfluidakan dibakar untuk menggerakkan mesin atau untuk membangkitkan kukus. Gas tersebut juga dapat dibakar bersamaan dengan bahan bakar lainnya. Selain itu, gas hasil gasifikasi unggun terfluidakan dapat digunakan pada pembangkit listrik melalui sebuah sistem kombinasi siklus yang disebut integrated gasification combined-cycle (IGCC).
Jika ditinjau dari potensi penerapannya di Indonesia, teknologi gasifikasi unggun terfluidakan (fluidisasi) memiliki potensi yang cukup besar karena sebagian besar cadangan batubara Indonesia tergolong dalam batubara kualitas rendah. Oleh sebab itu, pengolahan batubara dengan cara gasifikasi unggun terfluidakan merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk memaksimalkan hasil pengolahan batubara Indonesia.
Referensi:
[1] Basu P. Combustion and Gasification in Fluidized Beds. 2006; 21– 23: 59– 67: 74– 82.
[2] Higman C, MVD Burgt. Gasification. 2003; 98 – 109.


artikelnya bagus…
“Great “Artikel yang sedang saya tunggu-tunggu sebagai infoirmasi berharga dalam mempersiapkan/ mencari energy murah dan mudah2an dapat dipergunakan dari sampah yang selalu kita buang setiap hari.
Juga karena saya sedang mencoba sistim tsb menggunakan Cangkang Sawit / batu bara kalori rendah yang relatif halus yang cukup banyak kesulitan . terima kasih
*to sbm: thx.
*to Djeni Tanumihardja: Iya, gasifikasi unggun terfluidakan jg dpt digunakan untuk mengolah sampah… terutama limbah pertanian, tentunya selama Limbah tersebut sesuai dengan persyaratan bahan bakar gasifikasi. Oya, Anda juga melakukan gasikasi Cangkang Sawit? Bisa ceritakan mengenai sistem yang Anda kerjakan? Thx.
saya mahasiswa teknik kimia.saya sedang belajar software hysys dan aspen.saya kurang memahami aplikasi dari kedua sofware ini.termasuk cara kerjanya.mungkin saya akan ikut pelatihan aspen dan sejenisnya untuk menambah kemampuan.dan saya ada tugas perancangan heat exchanger dengan menggunakan aplikasi aspen dan hysys.please bantu saya.thx
@ ade: Hmm, stau saya klo Hysys aplikasinya lebih ke arah bahan yang bersifat fluida, sperti industri miGas. Nah klo Aspen lebih ke arah bahan yang bersifat solid…Maaf, hanya itu yang bisa saya informasikan…Mungkin Anda bisa bertanya pada ahlinya di web ini, dengan topik yang sesuai tentunya. Thx
apakah bisa menggunakan bahan baku limbah padat dari jamu?
Di daerah kaliurang, yogyakarta sudah ada tungku gasifikasi untuk pembangkit listrik dengan bahan bakar dari sabut kelapa dan cangkangnya juga. Udah bisa 100 atau 125 Kilowatt apa ya? (saya lupa). (saya dapat informasi dari tim yang membuatnya)
@ Nugroho: Setau saya, pemanfaatan limbah pada sebagai umpan gasifikasi bisa digunakan. Bahkan pada sampah kota. Sebenarnya selama bahan baku yang akan digasifikasi tsb masih mengandung senyawa karbon, sah-sah saja dijadikan umpan gasifikasi. Namun, harus dilakukan pretreatment terlebih dahulu agar memenuhi kriteria sebagai umpan gasifikasi…
@ Cahyo: Wah, menarik tuh… Dosen saya juga ada yang sedang mengembangkan gasifikasi sebagai pembangkit tenaga listrik. Katanya siy, mau di pake di Kalimantan. Hmm, klo Cahyo tau informasi detailnya, bisa berbagi disini…
Ok, Thx….
saya mahasiswa teknik n pengen bgt mendalami tentang energi batu bara lagi pula lg mata kulh ini n tanks jd pny bahan diskusi
Leave your comment!
3 Trackback/Pingback »
More articles from this category:
More articles from this author:
Quotes of the Day »
"Scientists investigate that which already is; Engineers create that which has never been."
Artikel Terbaru »
Teknologi Gas-To-Liquid (GTL)
Research Project of the University of Maastricht
CHE Softwares: Free, Demo, and Sharewares
CHE Around Us: Refrigerators
Event: Engineer’s Week (Pekan Insinyur)
Biogasification of Lignite Coal
Gasifikasi Batubara dengan Unggun Terfluidakan
Pembakaran Batubara dengan O2/CO2
IGCC: Major IGCC Sections (2)
IGCC: Technology Overview (1)
Komentar Terbaru »
Co-production of Bioethanol (84)
Teknologi Pengolahan Sampah (28)
Penggunaan Jamur Lapuk Putih dalam Penghilangan Warna Limbah Tekstil (11)
Chemiformers: lab cars go green! (20)
Integrated Coal Gasification Combined Cycle (26)
EPC? Engineering, Procurement, and Construction (47)
Majari at Flickr »
Topik Populer »
biodiesel biomass biotechnology business catalyst chemistry coal consultant energy equipments Event food fuel cell geothermal global warming green Indonesia life materials membrane nanotechnology oil and gas press release process control process design products reaction safety separation software students universities waste treatmentWeb Links
University Links
Arsip »
Majari Networks
Browse categories
Most Popular
Most Discussed
Most Emailed