Random Article:

Fuel Additive: Solusi Kenaikan Harga BBM? (29)

Home » Artikel » Teknologi

Co-production of Bioethanol

Seperti yang telah kita ketahui bersama, Indonesia kaya akan biomassa, apapun itu bentuknya. Oleh karena itu, pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi sangat potensial untuk dikembangkan. Berikut ini adalah paparan ringkas tentang produksi bioetanol dari bahan baku biomassa (bahan berselulosa) yang dikaitkan dengan produksi biofuel yang lain serta sedikit pembahasan tentang bio/catalytic refineries dan integrasinya dengan conventional refineries.

Hydrogen Production

Konversi biomassa menjadi hidrogen secara biologi dapat dilakukan dengan proses photofermentation maupun darkfermentation. Perolehan hidrogen dengan dark fermentation hanya mencapai 10-20% dari jumlah kandungan hidrogen dalam bahan organik teoretik. Perolehan hidrogen bervariasi dari 0,52 mol/mol heksosa yang diperoleh jika menggunakan subtrat molase dalam batch culture Enterobacter aerogenes, hingga 2,3 mol/mol heksosa jika menggunakan glukosa sebagai substrat dalam continuous culture Clostridium butyricum. Selain perolehan yang rendah, permasalahan lain yang ada dalam produksi hidrogen secara fermentasi adalah konsumsi hidrogen oleh organisme lain seperti metanogenik sehingga substrat awal harus di sterilisasi terlebih dahulu dan menggunakan inokulum yang dalam keadaan murni. Proses produksi hidrogen yang berdiri sendiri dengan cara ini masih tidak laik untuk diaplikasikan saat ini.

Methane Production

Dalam ekosistem anaerobik degradasi biomassa (yang tak tersterilisasi) secara normal dapat mengikuti jalur yang diilustrasikan pada Fig 1. Jika tidak ada akseptor elektron anorganik seperti sulfat atau nitrat, metana menjadi produk akhir proses karena semua senyawa intermediet dari bakteri fermentasi dapat di degradasi menjadi metana, karbondioksida, dan air. Hampir 90% energi dalam biomassa terkonversi menjadi produk akhir dan hanya 10% digunakan untuk bakteri fermentasi. Dalam tahap akhir proses pembentukan metana, karbon (dalam biomassa) hampir sepenuhnya diubah menjadi keadaan paling teroksidasi (CO2) dan paling tereduksi (CH4). Hanya 4% energi digunakan unuk mikroorganisme dan 86% energi terkandung dalam metana.

Degradation pathway and avaiable energy to participating microorganisms and in intermediates and end products during anaerobic degradation of organic matter. The percentages refer to residual energy in substrate and fermentation products (in bold), and to the energy used by microorganisms (in italics).

Dalam proses fermentasi metanogenik secara umum diperoleh perolehan metana mendekati perolehan maksimum teoretik 3 mol CH4/mol glukosa.

Production Biofuels Using the Maxifuel Concept

Proses produksi hidrogen, metana, dan bioetanol dapat dilangsungkan secara terintegrasi, seperti dalam Maxifuel concept (ilustrasi Fig 2). Konsep ini didesain untuk produksi Etanol dari bahan lignoselulosa, untuk menghasilkan jumlah biofuel yang maksimum per unit raw material dan memanfaatkan residu untuk konversi lebih lanjut menjadi energi. Produk utama bioetanol digunakan untuk bahan bakar transportasi dan penekanan proses ini untuk optimasi produksi etanol. Produksi biofuel yang lain seperti metana, hidrogen, dan produk bernilai lain seperti bahan bakar padat akan menambah nilai lebih pada proses. Proses ini juga ramah lingkungan karena dilakukan recycle dan reuse aliran keluaran. Pengembangan produksi etanol berbasis bahan lignoselulosa dapat diintegrasikan lebih lanjut dalam produksi bioetanol konvensional dari bahan jagung, dimana residu jagung dan fiber dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas 20% seperti tertera pada ilustrasi Fig 3.

Flow sheet of the Maxifuel concept. All major processes and process streams from solid lignocellulosic biomass to ethanol, hydrogen, and methane are shown.

Increasing the ethanol yield from a conventional corn-to-ethanol plant by bolting on a pretreatment and xylose fermenting unit. The ethanol output is increased by 20%.

Lebih dari 19% bahan baku terpisahkan sebagai padatan, yang dapat dimanfaatkan untuk proses pembakaran. Jika diinginkan, fraksi ini dapat ditingkatkan, sebaliknya jika tidak diinginkan dapat diresirkulasi pada proses pretreatment bersama dengan bahan baku. Neraca massa dari proses Maxifuel dapat dilihat pada ilustrasi Fig 4. Pilot plant proses ini telah di buat di Technical University of Denmark, DTU (ilustrasi Fig 5) dan konsep ini akan didemonstrasikan pada tahun 2008.

Mass balance based on COD of different products from the Maxifuel processes. The percentage values represent the relative contribution to the total COD.

The pilot plant at DTU. a. Inlet, b. Fermentation tanks (2700 L each), c. Fermenters and holding tanks, d. Distillation tanks.

Proses Maxifuel yang telah dipatenkan terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:

  1. Pretreatment
    Proses pretreatment dari bahan lignoselulosa lebih intensif dibandingkan dengan bahan gula dan bahan berpati. Metode pretreatment bahan lignoselulosa sekarang ini mengonsumsi 30-40% biaya total untuk produksi bioetanol.
  2. Hydrolysis
    Hidrolisa keluaran tahap pretreatment direaksikan dengan enzim untuk memecah selulosa dan hemiselulosa menjadi heksosa dan pentosa sehingga dapat di fermentasi mejadi etanol. Harga enzim sangat mahal, sehingga penelitian untuk mendapatkan enzim dengan aktivitas tinggi dan harga murah adalah kunci untuk mengatasi hambatan ini. Adapun cara lain untuk mereduksi biaya adalah dengan melakukan recycle loops untuk mengumpan balik enzim dalam tangki hidrolisis enzimatik.
  3. Fermentation of C6 sugars
    Tahap hidrolisis dapat dioptimalkan dengan melakukan kombinasi hidrolisis enzymatik bersamaan dengan proses fermentasi oleh ragi (simultaneous saccharification and fermentation, SSF). Temperatur optimum enzim yang lebih tinggi dari pada temperatur optimum ragi dapat mengurangi keuntungan menggunakan proses SSF dibandingkan dengan proses terpisah. Ragi roti Saccharomyces cerevisiae digunakan untuk menghasilkan etanol, dan telah banyak digunakan dalam produksi skala industrial. Produktivitas etanol yang besar serta toleran terhadap etanol dan inhibitor lain dalam hidrolisa biomassa adalah alasan penting digunakannya organisme ini, meskipun proses fermentasi xylose organisme ini kurang.
  4. Separation
    Setelah fermentasi glukosa oleh ragi dalam konsep Maxifuel, lignin dipisahkan dengan menggunakan filter, yang sangat mungkin didapatkan lignin dengan berat kering yang tinggi untuk menghindari pembuangan xylose dan etanol yang berada dalam fasa likuid.
  5. Fermentation of C5 sugars
    Gula residu dalam hidrolisat setelah proses fermentasi oleh ragi di fermentasikan lagi menggunakan mikroorganisme termofilik, Thermobacter BG1. Modifikasi genetik pada mikroorganisme ini dapat menghasilkan 38,7 g/L atau 5,4% v/v etanol dalam sistem kontinu dari hidrolisa bahan nondetoxified lignoselulosa. Temperatur pertumbuhan pada 75oC memberi kemudahan untuk proses distilasi etanol dari reaktor. Operasi pada kondisi termofilik dapat menurunkan pengaruh kontaminasi, yang merupakan hambatan utama proses fermentasi pada kondisi mesofilik. Selama proses fermentasi gula residu ini, 0,5 sampai 1,1 mol hidrogen/mol substrat dihasilkan sebagai produk samping. Untuk optimasi kelayakan, proses fermentasi termofilik bioetanol dilakukan dalam sistem reaktor terimobilisasi. Imobilisasi organisme ini dalam up flow reactor meningkatkan toleransi etanol, meningkatkan konversi substrat, dan menurunkan sensitivitas ketidakseimbangan proses fermentasi
  6. Anaerobic digestion of process water and recirculation
    Efluen dari produksi bioetanol masih mengandung bahan organik yang besar, kecuali karbohidrat. Anaerobik digestion telah lama digunakan untuk mengolah limbah yang mengandung zat organik dalam konsentrasi yang tinggi. Keuntungan proses ini antara lain menstabilkan aliran limbah, efisiensi reduksi kandungan zat organik tinggi, dan produksi metana sebagai bahan baku energi. Pendapatan dari produksi metana dapat mengurangi biaya produksi bioetanol hingga mencapai 34%. Efluen dari tahap fermentasi mengandung lignin berberat molekul rendah yang dihasilkan selama proses fisik-kimia pada tahap pretreatment, yang berupa senyawa aromatik. Senyawa aromatik ini secara umum sukar di degradasi pada proses anaerob, dan jika digunakan kembali akan menginhibisi proses fermentasi. Oleh karena itu, pencapaian dalam proses purifikasi anaerobik yang dapat mendegradasi senyawa ini sangat penting dilakukan.

Bio/Catalytic Refineries

Perkembangan lanjut biorefineries dapat dilakukan dengan teknik hibrida menggabungkan proses konversi biologi dengan proses hilir katalitik. Proses dalam autothermal reformer dengan efisiensi tinggi dapat mengubah 1 mol etanol menjadi 5 mol hidrogen. Jika digabungkan dengan proses biologi dimana 2 mol etanol dihasilkan dari setiap molekul gula (glukosa) perolehan hidrogen dalam dua tahap menjadi 83 % dari nilai maksimum teoretik, lebih besar jika dibandingkan dengan proses fermentasi yang hanya mencapai 10-20%. Selain itu, dihasilkan juga hidrogen dari proses fermentasi termofilik yang akan menambah perolehan hidrogen pada keseluruhan proses mendekati nilai maksimal teoretik yaitu 12 mol hidrogen/mol monosakarida.

Hidrogen dipandang sebagai salah satu energi masa depan. Pengenalan proses hilir konversi katalitik biofuel memungkinkan digunakannya bahan bakar yang tidak memerlukan perlakuan yang lebih kompleks (etanol untuk menghasilkan hidrogen) untuk alat transportasi dengan menggabungkan teknologi fuel cell.

Integrated Conventional and Bio/Catalytic Refineries

Adanya perhatian dan perkembangan yang pesat pemanfaatan biomassa sebagai bahan baku energi, tidak menutup kemungkinan bahan bakar minyak akan terganti semua dalam kurun waktu 50 tahun. Integrasi antara conventional refineries dengan bio/catalytic refineries akan menimbulkan kesinergian dalam proses, ketersediaan bahan kimia, dan logistik. Beberapa aliran proses, limbah, dan panas dari conventional refinery dapat dimanfaatkan dalam biorefinery (ilustrasi Fig 6). Air pendingin dan beberapa aliran efluen dapat digunakan sebagai air proses dalam biorefinery. Conventional refinery memiliki sejumlah besar energi dengan temperatur rendah yang dapat ditukar dan dimanfaatkan untuk energi proses dalam biorefinery. Produk biorefinery dapat digunakan sebagai bahan baku untuk bermacam-macam proses dalam conventional refinery. Sebagai contoh, etanol digunakan sebagai bahan campuran produk gasolin.

Hidrogen yang dihasilkan dari proses biologi dapat dimanfaatkan untuk proses hidrogenasi dalam conventional refiery. Methane dari proses biorefinery dapat digunakan untuk bahan bakar, dan dapat juga digunakan sebagai bahan baku proses reformasi katalitik untuk menghasilkan hidrogen. Dapat juga digunakan untuk menghasilkan gas sintesis (CO/H2), yang dapat dimanfaatkan dalam proses gas to liquids atau produksi metanol. Adanya tahap proses katalitik antara kedua refinery ini dapat meningkatkan keuntungan dua kali lipat , karena hidrokarbon keluaran proses katalitik dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku proses refining lebih lanjut pada coventional refinery.

Combination of bio/catalytic refinery and petroleum-based refinery. cat indices chemical catalytic conversion.

Referensi: Bioscience and Technology, BioCentrum-DTU, Technical University of Denmark.

(3 votes, 3.67/5)

80 Comments »

  • Bhe (majari) said:

    Bagaimana menurut anda sekalian tentang prospek Bioetanol di Indonesia. Selama ini, pabrik bioetanol yang telah lama beroperasi berbahan baku molase, dan baru-baru ini ada yang menggunakan bahan pati singkong. Kalo ga salah juga Medco telah punya pabrik bioetanol dari singkong. Ada yang tahu pabrik2 yang lain tak??

  • Bhe (majari) said:

    wah.. ternyata jadi salah satu topik di prarancangan pabrik saia nihh…. hehe

  • Jeanne Suzan said:

    dengan hormat,

    saya tertarik dengan teknolongi danperkembangan pembuatan bioethanol dan biomass fuel sebagai bahan pengganti bahan bakar..

    Apakah anda sendiri sekarang sudah memproduksi bioethanol?

    Dan untuk menggantikan bensin dan bahan bakar, manakah yang lebih hemat dalam produksi? apakah dengan singkong, molase atau sorgum atau adakah yang lainnya?

    Apakah anda juga dapat memberikan saya specs untuk mesin pembuatnya?

    jikalah saya interest membuat bahan bakar alternative ini, bagaimanakah caranya? mesin saja saya tidak mengerti…

    terima kasih kalau anda dapat membantu saya.

  • Bhe (majari) said:

    Dear Miss Jeanne Suzan
    Kebetulan saya masih mahasiswa, jadi kalaupun sudah produksi bioetanol masih skala lab, itupun hanya tahap fermentasi saja, tidak sampai ke tahap pemurnian lebih lanjut. Sebagai informasi, Bioetanol generasi pertama menggunakan bahan baku yang bisa bersaing dengan bahan makanan seperti nira tebu, nira bit, singkong, umbi, jagung, dkk. Untuk berikutnya dikembangkan bioethanol generasi kedua dengan memanfaatkan bahan yang tidak berhubungan dengan pangan, seperti lignoselulosa. Berdasarkan referensi ini saya sampaikan perolehan etanol dari beberapa bahan baku yang banyak tersedia di Indonesia:

    Sumber karbohidrat Hasil panen ton/ha/tahun Perolehan etanol
    Molase 3,6 270 L/ton 973 L/ha/tahun
    Singkong* 25 * 180 L/ton 4500 L/ha/tahun
    Tebu 75 * 67 L/ton 5025 L/ha/tahun
    Sagu 6,8 ** 608 L/ton 4133 L/ha/tahun
    Ubi Jalar 62,5 *** 125 L/ton 7812 L/ha/tahun
    Nipah 27 93 L/ton 2500 L/ha/tahun
    Keterangan :
    *) panen 10 bulan sekali
    **) pati sagu kering, panen 98 bulan
    ***) panen 2,5 kali setahun

    Untuk bahan baku mana yang lebih hemat produksi (biaya operasi per satuan produk) biasanya lebih murah untuk bahan-bahan yang sudah mengandung gula sederhana, seperti nira tebu, nira bit, ataupun molase. Untuk bahan berpati harus dilakukan dulu proses hidrolisis untuk memperoleh larutan gula, begitu juga untuk bahan lignoselulosa. Proses hidrolisis ini akan menambah biaya produksi tentunya, apalagi untuk bahan lignoselulosa, biaya yang dibutuhkan masih sangat mahal, karena susah di hidrolisis untuk saat ini.

    Untuk specs mesin pembuatnya, ada yang bisa membantu? Kebetulan saya belom sampe tahap perancangan nih, sebentar lagi mo mulai. hehe….
    mungkin bisa kerja sama dengan badan tertentu yang terkait, misalnya BPPT.

    Regards….

    Rendra

  • Bhe (majari) said:

    Waduhh kok tabel yg di susun jadi ngga karuan yahhh…. ni diperbaiki deh, mudah2an bisa dimengerti

    Molase, Hasil panen 3,6 ton/ha/tahun, Perolehan etanol 270 L/ton atau 973 L/ha/tahun

    Singkong, Hasil panen 25 * ton/ha/tahun, Perolehan etanol, 180 L/ton atau 4500 L/ha/tahun

    Tebu, Hasil panen 75 * ton/ha/tahun, Perolehan etanol 67 L/ton atau 5025 L/ha/tahun

    Sagu, Hasil panen 6,8 ** ton/ha/tahun, Perolehan etanol 608 L/ton atau 4133 L/ha/tahun

    Ubi Jalar, Hasil panen 62,5 *** ton/ha/tahun, Perolehan etanol 125 L/ton 7812 L/ha/tahun

    Nipah, Hasil panen 27 ton/ha/tahun, Perolehan etanol 93 L/ton atau 2500 L/ha/tahun

    Keterangan :
    *) panen 10 bulan sekali
    **) pati sagu kering, panen 98 bulan
    ***) panen 2,5 kali setahun

  • yanuar sandy said:

    Halo semua,
    Saya Sandy Yanuar, alumni UPN Surabaya angkatan lama (he he tahun 1987-1992). Pengalaman saya selama ini di Pabrik Makanan dan Minuman, sekarang saya lagi tertarik dengan bioetanol dan ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang proses bioetanol terutama proses dan alat distilasi dan deaeratornya . Demikian dan terima kasih.

  • Inar said:

    Hallo, saya Inar Mahasiswa semester 8 di ITS Surabaya. Sekarang ini saya baru mengerjakan TA Pra Desain Pabrik. Rencananya saya mau membuat pabrik Bioethanol.Tapi masih sulit memilih bahan bakunya. dari jagung,cassava, molasses atau nira.saya masih bingung dengan pemilihan masing-masing bahan baku, baik dari harga, kualitas maupun kuantitas. Sebaiknya saya memilih bahan yang mana yang paling tepat.Mohon penjelasan. Terima kasih banyak

  • Arie said:

    Halo semua, kebetulan saya tinggal di Lampung dan punya sdikit info seputar produksi etanol dlampung. Utk skala besar saat ini ada bbrp pabrik yg telah produksi diantaranya BPPT dan Medco dg bahan baku singkong. Dan saat ini juga sedang dikembangkan produksi etanol skala kecil baik dari singkong ataupun molases. Kalau di Maluku utara, juga telah dimulai produksi skala kecil dengan bahan baku aren. Utk yg tertarik detailnya, kalau tidak salah sudah ada asosiasi produsen etanol skala kecil di Indonesia.
    Utk Inar (oh ya saya dari K-37), pemilihan bahan bakunya akan tergantung lokasi pabrik yg akan kamu rancang, karena bahan bakunya adlh produk agro maka akan tergantung dg daerahnya juga. Kalau BPPT & Medco di Lampung memilih menggunakan singkong, bukan berarti utk daerah lain akan feasible jika menggunakan bahan baku yg sama. Salam.

  • yusnita said:

    Hallo, semua…..
    Saya Yusnita alumni ITS Surabaya. saya tertarik dengan pembuatan etanol dengan bahan baku Nira. Saya mohon bantuan teman-teman tentang data perolehan etanol dgn bahan baku Nira serta harga bahan baku plus kalo bisa ama flowsheetnya.matur suwun…….

  • harries said:

    saya harries di banjarmasin
    saya tertarik dengan teknolongi dan perkembangan pembuatan bioethanol (fuel grade) dan kemungkinan mix dengan solar sebagai upaya penghematan biaya bahan bakar. … katanya harga ethanol lebih murah dibanding harga solar..
    Saya mohon bantuan teman-teman info biaya investasinya dan teknik pembuatan bioetanol terutama proses dan alat distilasi dan deaeratornya . Demikian dan terima kasih.

  • asih said:

    hallo…salam kenal
    saya asih mahasiswi teknik lingkungan undip semarang, sekarang saya semester8 & lagi penelitian tentang pembuatan bioethanol dari onggok(limbah tapioka), mohon bantuannya jika ada literatur atau jurnal tentang hal tsb
    saya juga mau nanya bagaimana cara menghidrolisa kandungan lignin pada limbah onggok tersebut..?mohon bantuannya..terimakasih

  • Bhe (majari) said:

    @ Inar, pabrik bioetanol memang benar merupakan salah satu jenis agroindustri jika bahan-bahan yang digunakan merupakan produk pertanian/perkebunan, sehingga untuk penentuan lokasi harus yang dekat dengan sumber bahan baku yang digunakan. Sebagai contoh Medco yang mendirikan pabrik di Lampung, karena lampung adalah produsen singkong terbesar di Indonesia. Untuk memilih bahan baku, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: perolehan etanol, ketersediaan bahan baku yang sinambung, persaingan pemanfaatan bahan baku untuk industri lain, ketersediaan teknologi dsb. Untuk skala kecil, industri etanol di indonesia sebenarnya cukup berpotensi di kembangkan, akan tetapi margin harga bahan baku dan harga produk yang sempit membuat industri ini agak kurang begitu kompetitif. Contoh produksi etanol dari sirup nanas, jambu monyet, dan buah bergula lainnya (di sejumlah daerah waktu panen tersedia melimpah dengan harga yang sangat murah dan kurang laku, sayang kalo dibiarkan membusuk). Untuk rincian peralatan pembuatan etanol skala kecil/menengah, saya pernah membaca di internet, situs majalah trubus tepatnya, tp saya lupa alamatnya (bisa di cari via mbah google, kalo masih aktif).
    @Arie, apakah anda yakin pabrik etanol Medco Lampung sudah mulai memproduksi etanol?? Kalo sudah berdiri sihh emang benar (pabrik sudah jadi).
    @Yusnita, bahan baku nira yang dimaksud nira apa? ada banyak jenis tumbuhan bernira di Indonesia, nira tebu (jangan dibuat etanol dehh, buat gula ajah masih kurang, kalo molasenya sihh boleh2 ajah), nira aren, kelapa, nipah, dll.

    Rule of Thumb untuk perkiraan perolehan etanol
    Untuk bahan berpati, konversi pati —–> glukosa sebesar 1.1
    Konversi etanol —–> glukosa 0.51 (bisa dikalikan dengan perolehan)
    Contoh: Singkong, kadar pati 24 %. dengan basis 100 kg, diperoleh pati 24 kg. konversi ke glukosa dihasilkan (24*1.1) = 26.4 kg, dalam proses fermentasi dihasilkan etanol (26.4*0.51*0.9) = 12.12 kg (perolehan etanol 90%).
    densitas etanol 0.79 kg/L (suhu kamar), sehingga diperoleh etanol (12.12/0.79) = 15.34 L
    Jadi untuk memproduksi 1L etanol dari singkong dengan kadar pati 24%, diperlukan 6.5 kg singkong.
    Maaf jika ada kesalahan.

    Best regards

    Rendra

  • wulan said:

    saya tertarik dengan teknologi Bioetanol.
    tetapi ada beberapa hal yang belum saya mengerti.
    1. perencanaan pembangunan pabrik bioetanol
    saya sedang melakukan riset tentang studi kelayakan pabrik bioetanol, dengan rencana kapasitas produksi 500 lt/hari, dengan bahan baku molases.sedangkan bahan baku yang tersedia cukup banyak. bagaimana cara menentukan kapasitas maksimal agar pabrik bisa layak produksi.
    2. desain mesin dan pabrik bioetanol dan spesifikasinya
    mohon bantuannya. trims

  • Dani said:

    Saya pengin tahu tentang proses pengolahan bahan berselulosa untuk dijadikan etanol? Ada yang bisa bantu untuk informasi detailnya? Disain untuk distilator nya ada yang tahu?

  • eni said:

    apakah hasil samping dari pabrik glukosa dari tepung tapioka efektif dijadikan produk etanol??

  • Bhe (majari) said:

    Hmm… hasil sampingnya apa ya? kalo masih mengadung gula yang cukup banyak dan jumlahnya mencukupi, mungkin masih bisa efektif untuk memproduksi etanol. Untuk proses batch dan kontinu, biasanya memerlukan kadar gula yang tinggi, untuk mendapatkan kadar etanol yg tinggi pula (tetapi terbatas), sehingga akan mengurangi kebutuhan energi diproses hilirnya (terutama distilasi). Coba aja hitung dengan perhitungan di atas, apa masih efektif??

    Regards

  • andre_CG said:

    Saya andre alumni UBAYA surabaya jurusan t.kimia03

    Kalo boleh memberi pendapat..
    Pembuatan bioethanol terdiri dari beberapa tahap yang penting,saya coba jelaskan secara singkat dan sederhana:

    1. Proses persiapan bahan baku
    Disini misal kita menggunakan bhn baku singkong..singkong dikuliti,dicuci, dan dicacah sampe halus sampai berbentuk slurry..

    2. Proses hidrolisis/liquifikasi
    Slurry yang sudah terbentuk dimasukkan kedalam jetcooker untuk dimasak spy terjadi proses gelatinasi
    sebelumnya ditambahkan enzym untuk bisa memecah amylosa yang ada dalam pati tersebut. Setelah proses pemasakan selesai dimasukkan ke dalam reaktor sampai proses pemecahan amylosa berlangsung sempuna.

    3.Proses Sakarifikasi
    Ditambakan enzym lagi untuk dapat memecah amylopeptin yg tidak dapat dipecah menjadi gula sederhana oleh enzym yang sebelumnnya.Setelah semua amylosa dan amylopeptin terpecah menjadi d-glucosa maka baru siap untuk dilakukan proses fermentasi. Tapi sebelum masuk fermentor harus difilter semua impuritiesnya serta meng disaktifasi enzym..

    4.Proses Fermentasi
    Disini kita menggunakan yeast dan suppyl O2 untuk dapat menghasilkan etanol. Perlu juga untuk ditambahkan nutrisi dll untuk dapat membuat kinerja dari yeast optimum.Jgn lp juga untuk mengatur suhu dan PH (begitu juga proses hidrolisis dan sakarifikasi)

    5.Proses pemurnian ethanol
    Hasil produk ethanol dari hasil fermentasi tidak dapat langsung digunakan untuk bhn bakar pengganti bensin. Kadar kemurnian bioethanol untuk biofuel harus lebih tinggi dari 99.5%, Jadi disini kita harus memrnikan ethanol dari kandungan air yang ada sampe maksilmal menggunakan sistem distilasi. Ethanol-air larut sempurna, jadi disini kesulitannya kita harus menggunakan distilasi azeotropik yang terkenal sangat sulit perhitungannya.

    Demikian yang saya bisa tuliskan..semoga bisa membantu…Soalnya judul Skripsi saya adalah “DESAIN PROYEK PABRIK BIOETHANOL BAHAN BAKU SINGKONG” jadi saya lumayan mengertilah walau banyak kesalahannya he he he

    Regards
    Andre_CG

  • santo said:

    Saya Santo di Blitar, karyawan swasta, saya tertarik tentang pembuatan bioethanol dari molases, mohon bantuan secara detil cara buat bioethanol berbahan baku molases plus flowchartnya, bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan untuk proses, bisa juga dikirim via email : pwsanto@yahoo.com
    Atas bantuannya, Trimakasih.

  • olive said:

    saya mohon infonya bagaimana kalau bahan baku yg digunakan untuk produksi bioethanol adalah onggok (limbah padat) tapioka. Bagaimana treatmentnya? Apa perlu menggunakan Effective Microorganisme (EM)?Mohon detailnya/linknya (kalau ada). Utk separasinya, metode yg cocok dlm skala lab sebaiknya memakai apa? terima kasih banyak.

  • nuning purwaningsih said:

    Dear Majari,
    saya alumni informatika-its angk99, sedang meneliti kemungkinan bisnis bioetanol ini. dasar kimia saya nyaris nol:) karena itu mohon jika ada artikel2 sehubungan dgn bioetanol dari molase dan singkong tlg dikirim via email ke nuning.purwaningsih@gmail.com. termasuk utk mesin dan proses pembuatannya. terimakasih banyak atas bantuannya.

    best regards,

    nuning purwaningsih

  • anom said:

    saya tertarik dengan pembahasan bioethanol dengan bahan baku singkong
    yang ingin saya tanyakan :
    1. bagaimana dampak lingk. thd produksi bioethanol.
    2. mohon bantuan, berapa kapasitas mesin bioethanol skala rumahan dan bagaimana cara pemesanan, pelatihan

  • very said:

    saya mahasiswa brawijaya ingin melakukan penelitian mengenai bioetanol dari bahan lignoselulose
    yang ingin saya tanyakan:
    1. saya ingin meggunakan bakteri zymomonas mobilis karena dapat menfermentasi gula rantai C5 dan C6, bagaimana metode pembuatan kultur starternya
    2. mohon saya diberi pustaka penentuan effisiensi fermentasi etanol, karena seandainya saya ingin membandingkan bakteri zymomonas dengan saccharomyces.
    mohon bantuanya terima kasih.

  • dickson mulia said:

    hai smuanya, saya mahasiswa Teknik Kimia UI angkatan 2005 dan kebetulan saya lagi KP di PT Molindo Raya Industrial di Malang (klo temen2 tau PT Molindo itu pionir untuk produksi Fuel Grade Etanol)..

    Banyak pertanyaan yang temen2 diatas itu bisa dijawab di buku:
    Judul: Bioetanol Ubi Kayu: bahan bakar masa depan,
    Pengarang: Rama Prihandana dkk.
    Penerbit: Agromedia.

    Saya sudah baca buku itu dan hampir semua pertanyaan temen2 ada di buku ini.. Walopun bilangnya dari singkong tapi buku ini membahas cukup detail ke semua bahan bakunya. Pokoknya sangat recommended lah buat temen2 yang juga tertarik di bidang bioetanol.

    Untuk Andre Ubaya, mungkin Anda blom update lagi, untuk distilasi azeotrop sekarang sudh digantikan dengan teknologi membran yang jauh lebih mudah, jadi untuk mencapai FGE bukan mustahil bahkan di industri rumahan sekalipun.. Checkout: http://www.pusatagroindustri.com/2008/05/23/teknologi-membran-ternyata-mampu-memurnikan-etanol-hingga-998/

    Regards,

    dickson

  • andre_CG said:

    yup betul skali yang dikatakan oleh sdr.dickson mulia

    Memang sekarang ini teknologi membran telah membuat kita menatap masa depan yang lebih cerah ttg pembuatan ethanol FG
    Bagi para mahasiswa yang masih aktif di bidang Riset tidak ada salahnya untuk mencoba bereksperimen ttg hal tersebut…Good luck

    Best Regards
    Andre_cg

  • risman said:

    Saya telah mampu membuat pabrik skala kecil dengan kapasitas 100Lt/hari dengan memanfaatkan molase (tetes tebu). dengan menggunakan sekitar 1 drum tetes tebu mampu menghasilkan 105Lt/ hari rata-rata untuk kadar 95% dan sekitar 50Lt/hari kadar 90%. Jika kadar 90% diturunkan menjadi 40% maka akan mendapatkan sekitar 100Lt/hari kadar 40% yang bisa digunakan untuk menggantikan fungsi minyak tanah. Untuk yang berkadar 40% ini sangat efektif membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan energy alternatif selain minyak tanah dan gas.untuk produk yang 40% kami mampu memasarkannya disekitar kami. namun yang berkadar tinggi (95%) kami sangat membutuhkan informasi lebih lanjut kemana kiranya dapat memasarkannya dengan harga yang kompetitif? pesan saya lagi khusus yang bisa menggantikan minyak tanah yang berkadar 40% itu, tolong dicampur dulu dengan bahan kimia tertentu yang mampu merusak fungsi etanol yang berpotensi digunakan untuk minuman beralkohol. mungkin juga dapat diubah menjadi bentuk gel sehingga tidak layak dikonsumsi namun dapat digunakan secara tepat guna. untuk urusan yang satu ini silahkan kontak TRUBUS. untuk yang ada informasi marker bioetanol kadar tinggi please call me at rismanarif@yahoo.co.id. thanks

  • wahyu said:

    hallo salam kenal,
    saya berdomisili di malang selatan, saya ingin membuat industri rumahan bioetanol berbasis singkong.
    memang di tempat saya banyak pabrik gula yang dapat mensupply tetes tapi ada beberapa permasalahan yaitu
    1. tetes tebu sudah menjadi rebutan pabrik rokok, pabrik MSG, dll
    2. tetes tebu tersedi musiman yitu 6 bulan saja, selebihnya 6 bulan lagi tidak ada.

    maka dari itu saya mencoba untuk membuat etanol dari singkong. tetapi yag menjadi kendala adalah mencari enzim “alfa amilase dan gluko amilase”. dimana saya bisa mencarinya sebab saya sudah mencari di toko kimia malang tidak ada yang menjual.

    ada lagi pertanyaan saya
    apakah tanpa enzim tersebut bisa dilakukan pengolahan dari pati menjadi etanol?(hanya menggunakan ragi)

    kalau ada yang mengetahuinya bisa minta tolong untuk dikabari saya. trims
    wahyunugroho@yahoo.com

  • octavianus said:

    saya baru mau mulai belajar tentang bioetanol dan proses pengolahannya, apakah dalam prosesnya menghasilkan limbah yang dapat merusak lingkungan atau ada produk sampingannya, apakah ada referensi yang bisa saya jadikan acuan untuk mencari informasi mengenai bioetanol dan proses pengolahannya?

    Best Regards,

    octavianus

  • adi kupank said:

    saia mau menanyakan kl biobutanol bgmn cr buatnya?
    apakah sama seperti bioetanol tetapi berbeda mikrobanya saja?
    minta jwbn nya donk di adi_kupank@yahoo.com
    makasih…

  • Rio said:

    Saya tertarik dengan bioethanol tapi saya masih nol untuk pengetahuannya maupun cara membuat. Ada rencana untuk membuat yang akan di gunakan masyarakat kecil di ciawi. Tolong bantuannya Terima kasih.
    oir31@yahoo.com

  • rasyidin said:

    saya pernah nonton di tv tentang pembuatan bioethanol dari singkong , cuma saya ndak tahu alamatnya. bisa nggak tman-tman infokan alamatnya

  • yudi said:

    Saya tertarik dengan bioethanol tapi saya masih nol untuk pengetahuannya maupun cara membuat. Ada rencana untuk membuat yang akan di gunakan masyarakat kecil desa cikadongdong kab. tasikmalaya Tolong bantuannya Terima kasih.

  • Abdillah said:

    Saya tengah mencoba membuat ethanol dari singkong, tapi nampaknya gagal. Mungkin karena bio prosesnya.

    Yang saya mau tanya, dimana mendapatkan cendawan aspergillus dan bakteri saccharomyces?.

    Apakah untuk proses sakarifikasi dan fermentasi saya dapat menggunakan ragi yang sama?

    Please Help, saya membutuhkan informasi itu. Tolong kirim ke email saya: gemamandiri@yahoo.com

    Terimakasih sebelumnya.

  • Abdillah said:

    Tanya lagi, setelah mendapatkan ethanol 95% perlu disuling lagi dan pengeluarannya menggunakan pipa yang bagian dalamnya dilapisi zeolit.

    Zeolit jenis apa yg efektif? bagaimana cara melapisi selang keluaran penyulingan sebelum memasuki pendingin?

    Tolong beri informasi yang lengkap, itu akan membantu saya dan masyarakat saya dalam mengatasi kebutuhan energi alternatif yang mandiri. Minyak dan gas makin mahal dan sering kali menghilang soalnya.

    Sebelumnya saya ucapkan “terima kasih” atas bantuannya.

  • andre_CG said:

    mau nanya nih..saya sudah mencoba membuat bioethanol dari molasses..
    tapi terkendala dengan baunya yang menyengat..(bau seperti ciu-minuman keras)
    bagaimana cara menghilangkan bau yg menyengat tersebut ya ???

    Atas bantuannya saya ucapan Terima kasih..
    Regards
    Andre_CG

  • Misbahul Munir said:

    Maaf mas andre ya kalau bau menyengat itu hasil akhir dari proses yaitu etanol dan gas co2 jadi yang menyengat co2nya, kalau mau hilang biarkan setelah etanol itu pada suhu kamar. begini teman-teman yang baik kalau mau bikin etanol anda dalami dulu teknologinya atau ilmunya kelihatan mudah tetapi banyak faktor yang dispelekan, contoh untuk yang dari singkong, mencari amilasenya aja setengah mati. pada hal itu kelihatan mudah tinggal beli, tapi kenyataannya sulit. thx

  • andre_CG said:

    Terima kasih mas Misbahul Munir atas jawabannya..

    tetapi saya sudah diamkan sampai suhu kamar..tetapi bau menyengat tetap tercium..
    Saya harap ada solusi dari teman2..

    Atas bantuannya saya ucapkan byk terima kasih..

    REGARDS
    Andre_CG

  • Bima said:

    Saat ini saya tengah melakukan penyulingan bio ethanol dari mollase. Sudah dua jam saya suling pada suhu 78,8 o C tetapi ethanol belum juga muncul. Padahal katanya ethanol menguap pada suhu tersebut. Apa yang salah dengan lat saya? pada semua proses telah berjalan baik.

    Berapa lama didapat ethanol pada penyulingan di suhu 78,8 o C?. Terima kasih.

  • Linda said:

    @ wahyu

    untuk alfa amilase dan glukoamilase, sebenarnya bisa diproduksi sendiri.

    misalnya dengan bantuan aspergillus niger.
    kebetulan research S1 saya berkutat di produksi enzim-enzim tersebut, cara pembuatannya pun relatif sederhana mengingat mikroba yang digunakan adalah aspergillus niger.

    dan hasilnya tidak mengecewakan :D

  • nugroho said:

    salam kenal,
    mau tanya ke mas andre mengenai tahap I dalam proses produksi bioethanol.
    “Proses persiapan bahan baku
    Disini misal kita menggunakan bhn baku singkong..singkong dikuliti,dicuci, dan dicacah sampe halus sampai berbentuk slurry”…
    Apa ada alat untuk mengambil kandungan pati dari bahan singkong pada saat berbentuk slurry, sebelum dimasukkan ke tungku masak, hal ini dimaksudkan untuk mengefektifkan proses produksi dan meminimalkan biaya produksi.
    Untuk teman-teman yang lain, bikin inkubator bisnis bioethanol donk supaya bisa mewadahi kemampuan dan potensi di masyarakat.
    Terima kasih.

  • Linda said:

    @ nugroho

    sekedar informasi, mungkin untuk mengambil pati singkong kita bisa meniru cara yang digunakan industri rakyat.

    slurry singkong dibungkus kain, kemudian diperas, dan air hasil perasannya ditampung. ampas singkong kemudian dapat dicuci dan diperas ulang sampai air hasil perasan hampir jernih.

    untuk skala laboratorium kegiatan ini dapat dilakukan dengan tangan, mungkin untuk skala lebih besar diperlukan mesin press atau semacamnya.

  • nugroho said:

    @ linda
    thank you untuk infonya. akan saya coba. :)

  • Hoomaira said:

    Salam kenal…
    wahh rame ni pada ngomongin bioethanol… jadi pengen ikutan…
    Saya alumni refrigerasi polban.. mo ngomentarin bima nih yg tanya berapa lama ethanol bisa tersuling. Sebenarnya, seharusnya pada saat proses distilasi, ketika temperatur cairan mencapai 78C, ethanol seharusnya sudah menguap secara alami.. jadi mungkin desain destilation chambernya yg belum pas. Coba saja, desain bagian atasnya dibuat sedikit kerucut, dan jangan lupa pada pipa outletnya dilewatkan pada air bertemperatur 20C sehingga uap ethanol akan mengembun sempurna…
    sorry.. kalo ada2 salah… thx.

  • fadil said:

    Ada yang tau nggak dimana tempat penyulingan Bioetanol dari singkong…?
    Kalo ada mohon infonya yach……

    Tx

  • nugroho said:

    ada yang tahu soal membran dalam proses pembuatan bioethanol? pernah baca di trubus soal itu, bisa beli dimana yah membrannya? tq

  • Bima said:

    Terima kasih yah hoomaira infonya. Bener deh kayaknya, soal boilernya udah dibuat kerucut, cuma itu, kondensernya yang harus saya perbaiki. Typenya sih model pot. Hasilnya masih banyak air. Kalo packing…apa bisa menggunakan batu putih, batu kerikil asli (bukan pecahan dari yg besar? Soalnya susah cari packing yg pas. Apa paking dapat di tiadakan?.

  • nugroho said:

    saya butuh bioethanol 96%. kalau ada yang sudah produksi bisa email saya di wbnugroho@hotmail.com. tolong cantumkan harga barang sampai di jakarta dan lebih bagus lagi kalau sudah ada hasil analisa lab.
    tq.

  • rohim said:

    please…minta plant lay out pabrik bioethanol yang udah jadi dari teman 2 semua yang mungkin dah punya pengalaman ato memberikan info siapa yang punya ato mendapatkannya dimana…!!!!!, bisa kirim ke email : arohim_tekkim@yahoo.com…thanks

  • rohim said:

    o ya…,bioethanolnya yang 99,5 % (FGE) dari bahan baku ubi kayu.Juga kalo ada design untuk molekular shieve-nya dan klo beli molekular shive dimana? thanks lagi….

  • nugroho said:

    @ rohim,
    lay out pabrik yg skala produksinya berapa banyak pak? besaran skala pabrik tergantung modal dan ketersediaan bahan baku. masalahnya sekarang ubi kayu jadi rebutan banyak industri . di lampung petani singkong diuntungkan dengan adanya permintaan pasar yang semakin meningkat. masalahnya para petani di indonesia rata-rata belum menerapkan sistem tanam yang profesional. kalau mau beli mesin produksi yg sudah jadi, sekarang banyak tersedia di pasaran. coba lihat di majalah trubus. dari yg harga terjangkau skala ukm, sampai harga skala besar. untuk yg skala besar (kapasitas diatas 30 kiloliter per hari) sayangnya masih buatan luar, karena sudah terbukti kehandalan produksinya dan sistemnya sudah menyeluruh.
    btw, rencana lokasi pabriknya dimana? kalau sudah produksi boleh juga saya salurkan penjualannya. :)
    saya sendiri sedang mencoba produksi dalam jumlah kecil, dengan bahan baku bervariasi (ubi kayu, ubi jalar, molase).
    Untuk bioethanol FGE, pasar sebetulnya akan besar, tapi lebih banyak yang membutuhkan bioethanol 96% saat ini.

  • Bima said:

    buat yang sudah berhasil, kasih info mesinnya donk, apa aja sih dan berapalama proses setelah fermentasi ke etanol? berapa kali penyulingan sampe dapat bio etanol 95%. Pemanasan dengan suhu 78,4 o C yang saya lakukan kok tidak keluar (menguap) ethanolnya.

  • Yalun said:

    Salam kenal.
    Saya dosen Teknik Kimia yang sedang studi S3 di bidang Bioengineering di Australia. Walaupun riset saya bukan di biofuel namun mungkin saya bisa nimbrung dikit. Dulu waktu master di Delft pernah diskusi ama teman yang riset fermentasi xylose menjadi ethanol oleh S. cerevisiae.
    Bau yang dimunculkan akibat hasil fermentasi bukan dari CO2. CO2 adalah gas tak berbau. Bayangkan kita tiap detik menghembuskan CO2 dari paru-paru. Bau muncul akibat produksi fusel alcohol yang berasal dari fermentasi asam amino yang terkandung dalam molasses. Misalnya isoamyl alcohol yang berbau mirip pisang busuk adalah hasil fermentasi leucine oleh yeast. Molasses sendiri pada awalnya memiliki bau yang khas mirip karamel, terlebih jika molassesnya jenis molasses B dan C yang amat kental dengan kandungan gula 40-60 %.

    Mengenai biofuel, biofuel (dari proses fermentasi) yang perlu dikembangkan di Indonesia sebaiknya second generation biofuel yang menggunakan bahan non pangan sebagai raw material. Di samping itu jenis biofuel yang diproduksi lebih baik biobutanol krn memiliki banyak keunggulan dari ethanol. Ada banyak cara produksi biobutanol, yang paling umum skrg dengan fermentasi oleh C.acetobutylicum.

  • rohim said:

    rencananya mau dibuat yang kapasitas kecil dulu untuk program kerakyatan di pulau jawa…

  • andre_CG said:

    Wah pak Yalun..saya ini anak didik bapak..
    Walau cuma sekedar 1semester..he2

    Betul opini bapak,saya rasa bau yang ditimbulkan oleh hasil penyulingan bioethanol tersebut merupakan masih banyaknya kandungan asam amino..

    Dapatkah bapak membantu saya untuk dapat menghilangkan bau tersebut..
    Soalnya waktu saya sudah terbatas,dan susah untuk melakukan riset lagi..

    Thx alot

    Contact : bbbbinx2@yahoo.com

  • nugroho said:

    @ Yalun
    Salam kenal pak.
    Saya sangat tertarik dengan biobutanol. kalau mungkin bapak bersedia memberikan informasi lebih lanjut mengenai proses produksi, mesin/alat yang diperlukan, cara pembiakan mikroba yang dibutuhkan, dan terutama dimana bisa mendapatkan semua yang dibutuhkan dalam proses produksi biobutanol di Indonesia.

    Terima kasih.

  • Misbahul Munir said:

    ok mas andre, berarti penyulingan anda kurang bersih. thx., saya lagi cari membran yang sesuai dengan rekomendasi Bp I Gede dengan kapasitas 50 lt/hari dengan listrik 1000 watt, ada yang bisa bantu thx.

    contact : mnr_mnr99@yahoo.com

  • Yalun said:

    Halo Pak Nugroho,
    Kalau ngga keberatan, saya bisa kirim jurnal ilmiah tentang produksi biobutanol ke email Bapak. Mohon info emailnya. Yang saya miliki bukanlah PFD atau PID namun lebih ke review paper secara general. Jika menggunakan fermentasi, mesin yang dibutuhkan tidak jauh berbeda dengan produksi ethanol. Yang berbeda hanya jenis mikroorganisme dan kondisi operasi di fermentor. ABE fermentations oleh C. acetobutylicum bisa juga dipelajari di banyak text book industrial microbiology krn merupakan teknologi lama. Terus terang kalau ditanya di mana bisa mendapatkan semua alat untuk produksi butanol mohon maaf saya belum pernah buka pabrik. Mungkin mereka yang pernah punya pabrik ethanol walaupun skala kecil bisa membantu. Mengenai mikroorganisme, biasanya ada patentnya. Kalau beli dari ATCC (www.atcc.org) biasanya hanya untuk riset. Kecuali kalau bisa kontak langsung dengan penelitinya dan beli dari mereka, maka Bapak yang memegang lisensi.

  • nugroho said:

    Salam Pak Yalun,
    Thank you for your kind reply. Jujur saja saya tidak punya background chemistry, cuma ingin belajar bisa membuat biobutanol - profit oriented, frankly speaking… :)
    sejauh ini saya sedang belajar membuat bioethanol dengan teknologi sederhana (pernah ikut kursus di trubus). dari hasil searching di internet mengenai biobutanol (proses produksinya), jadi makin bingung.. hehehe..
    untuk fermentasi singkong saya memakai ragi roti biasa yang belinya juga di toko bahan roti, plus NPK dan urea. bagaimana dengan biobutanol? saya baca salah satu review di internet ada yang menggunakan bakteri E.coli. kalau tidak salah itu kan bakteri berbahaya yah? bagaimana dengan keamanan, kesehatan dan keselamatan produksi bila menggunakan bakteri semacam itu?
    maaf yah pak banyak nanya… :)
    btw, ambil S3-nya di universitas apa pak?

    email saya: wbnugroho@hotmail.com

  • nugroho said:

    @ Pak Yalun,
    one more thing sir,
    bagaimana jika saya menggunakan gula rafinasi sebagai bahan baku bioethanol? apakah prosesnya sama seperti molases?
    thank you.

  • Yalun said:

    Gula rafinasi hasil pemurnian raw sugar tentu berbeda dengan molasses yang banyak pengotornya. Juga tergantung jenis molasses A, B, atau C. Anda bisa saja pakai alat, yeast, kondisi operasi reaktor yang sama, dll nanti hasilnya pasti ada bedanya. Pada dasarnya performa mikroorganisme tergantung beberapa faktor seperti suhu, kadar oksigen, komposisi medium nutrient, jenis sumber karbon, jenis sumber nitrogen, sifat genetik, dll. Singkatnya, kalau satu aja yang berbeda pasti hasilnya beda. Itulah sebabnya kalau industri biotechnology yang maju perlu kuat di R&D dan QA.

  • misbahul said:

    teman-teman ada yang punya informasi mengenai mesin distilasi membrane atas rekomendasi Dr. I Gede dengan kapasitas 50 lt/hr listrik 1000 watt, tolong teman-teman saya butuh banget informasi tersebut, sebelumnya trim’s.

  • nugroho said:

    @ Pak Yalun
    Thank you buat infonya pak.

    @ Rohim
    Program kerakyatan? boleh juga dikembangkan, mesin siap pakai skala kecil sudah mulai ada beberapa yang buat (sesuai kemampuan dana). saya juga siap kok menampung produksinya.. :)

  • riyanto said:

    Berbagai comments di situs ini makin lama makin menarik sehingga saya kepingin ikutan.
    Saya sedang orat-oret mencoba membuat alat distilasi ethanol singkong, tiba-tiba sadar (belakangan ini saya koq agak telmi) bahwa masalah penyulingan ini nomor 2 atau nomor 3. Masalah nomor 1 (menurut saya lho, mungkin saja saya salah) adalah ketersediaan alpha amylase dan glucoamylase enzyme yang berkesinambungan dalam jumlah cukup dan harga pantas. Kalau buat sendiri di lab kan kurang ekonomis ? Apakah ada cara bikin enzyme yang murah seperti kalau orang bikin ragi tempe atau ragi tape ? Atau, apakah ada yang tahu siapa yang yang jual enzyme tersebut di Indonesia ? Saya sangat berterimakasih kalau ada teman-teman yang mau bantu beritahu saya.
    Sementara ini saya terpaksa berhenti dulu membuat alat destilasi sampai masalah ini terpecahkan. Wah repot deh.

  • Yalun said:

    Pak Riyanto,
    Ragi tempe (Rizhopus oryzae) dan ragi bir (Saccharomyces cerevisiae) mudah diproduksi karena merupakan mikroorganisme yang dipakai selama ribuan tahun. Sedangkan enzim harus diproduksi dengan quality control extra ketat. Enzim merupakan protein yang memiliki jumlah molekul dan struktur tertentu yang memungkinkan reaksi terjadi dengan cepat. Enzim bersifat khas dan hanya mempercepat reaksi tertentu yang spesifik. Artinya satu enzim umumnya cuma bisa buat satu reaksi. Maka agar bisa berfungsi optimum, enzim harus murni dan ditambah kofaktor metal tertentu seperti magnesium dan manganese.

    Singkatnya sangat susah membuat enzim. Supplier enzim di dunia amat terbatas dan dimonopoli beberapa raksasa seperti Novozymes dan Sigma Aldrich. Kalau buat skala kecil coba kontak agen Sigma Aldrich di Indonesia Untuk pilot plan lebih baik kontak Novozymes. Untuk Indonesia, biasanya di Cek saja beberapa perusahaan besar bahan kimia atau alat-alat lab. Jangan kaget dengan harganya, he he ^_^

  • nugroho said:

    @ misbahul
    Wah pak, saya juga sudah 2 bulan cari info mengenai alat membran seperti yang diulas oleh pak Wenten di trubus. sepertinya untuk skala ukm tidak ada yang jual di indonesia. saya malah ditawari yang skala pabrik besar oleh salah satu produsen di taiwan.
    seandainya pak Wenten selain mengulas juga mempromosikan produknya, pasti laku deh… :)

    @ riyanto
    pak, dari pada orat oret terus, mendingan langsung bikin alat destilasi saja. katanya sih solusi terbaik didapat setelah mengalami masalah, bukan sebelumnya.. :)
    soal enzym, sudah ada yang jual di jkt. soal harga? dalam cakupan biaya produksi kan harga enzym hanya salah satu faktor, bisalah di irit dari faktor biaya yg lain…

  • asnawi said:

    Salam kenal
    saya sudah bisa buat bioethanol berkat pelatihan ditrubus persoalannya siapa yang dapat menampung hasil produksinya mungkin teman-teman dapat membantu,thx.

    contact : milahnawi@yahoo.com

  • Misbahul munir said:

    @P. Asnawi kalau memang bapak ud produksi, ethanolnya kadar brp%?, kapasitas berapa/hr?, sudah ada uji kadar dari suatu instansi formal?, kalau memang itu udah ada saya bisa bantu memasarkan dan kalaupun kadar bagus sampai 99,8% bisa tembus pertamina. kalau ada yang kurang jelas hub. e-mail saya mnr_mnr99@yahoo.com. atau 080331633715.

  • Misbahul munir said:

    Untuk persoalan enzym ada informasi di bekasi harga alpha amilase Rp. 90000,-/Kg, Gluko amilase juga sama tetapi belum ongkos kirim. kalau mau kesana ok sama-sama saya.

  • Helmy said:

    Pagi Pak….? saya masih awam sekali ttg bioethanol ini, tetapi saya sangat antusias sekali untuk bisa memproduksi bioethanol sendiri. yang menjadi pertanyaan saya adalah, mungkinkah saya bisa memproduksi bioethanol sendiri dengan sekala kecil ? (ussaha kecil-kecilan begitulah), kalo mungkin, kira-kira dana yang dibutuhkan berapa ya….?

    Regards
    Helmy

  • nugroho said:

    @ Helmy
    sekarang sudah banyak yang mengadakan kursus pembuatan bioethanol skala kecil. bisa di lihat di majalah trubus. tapi sayangnya peralatan produksi yang mereka jual harganya bukan skala kecil… :)
    kalau bisa buat sendiri sih pasti lebih murah biayanya pak. untuk perkiraan dana menurut saya tergantung kapasitas produksi yang anda inginkan sebesar atau sekecil apa.

  • Susetyo Dody said:

    saya ingin jualan bahan bakar :

    1.minyak tanah dari bioethanol
    2. Premium dari bioethanol

    minta siapa/kontak yang bisa dihubungi dan mensuplainya

    terimakasih

    Susetyo

  • Susetyo Dody said:

    bagi yang ingin mensuplai Bio ethanol
    mohon hub: HP saya 0813 809 23 901
    email : dody_susetyo@yahoo.com
    Susetyo

  • t. razali said:

    Dear rekan semua,

    saya jadi tertarik dg bio ethanol, saya ada lahan sedikit dan saya mau tanam tebu untuk diproduksi jadi ethanol. dari nira tebu bukan dari molasses. Adakah yang bisa kasih pendapat terutama pada pak Yalun, P. Nugroho dll. Bagaimana prosesnya, bahan bahannya, alat alatnya. Please help me

    kontak saya : teukurazali@yahoo.com
    Salam hijau

  • nugroho said:

    @ t. razali
    salam hijau pak razali
    untuk pemilihan bahan baku sebenarnya banyak faktor yang harus diperhitungkan pak. tapi untuk peralatan produksi-nya sebetulnya tidak jauh beda antara bahan baku mollase, nira tebu, singkong dan ubi jalar (yang mudah ditemukan di indonesia).
    jadi bila nira tebu bisa didapat dengan mudah dan terjangkau harganya ya silahkan saja pak.
    saya sendiri belum pernah menggunakan nira tebu, jadi belum tahu efisiensi produksinya. sebagai perbandingan, bila menggunakan mollase diperlukan kurang lebih 225 Lt mollase guna menghasilkan 70 Lt ethanol 95%. maaf kalau kurang tepat informasi yang saya berikan pak. untuk jelasnya mungkin bisa di tanyakan kepada ahlinya.

  • Greg said:

    Huh! Bingung juga baca smua email teman2 dari atas sampai akhir. Saya lagi cari partner untuk bikin bioethanol yang punya pengalaman dan sudah terbukti berhasil. Yang berminat berbisnis dengan saya tolong hub saya ya di gcataquez@crb.elga.net.id Thx.

  • Yalun said:

    Pak Razali,
    Secara singkat untuk satu production line Anda mungkin perlu dua tangki fermentor, satu kecil untuk pertumbuhan yeast (inokulum), satu besar untuk konversi gula ke ethanol. Untuk separasi butuh filtrasi dan menara distilasi. Mungkin perlu juga alat bioseparasi yang lain atau/dan destilasi azeotrope, tergantung budget dan kualitas produk diinginkan.
    Butuh centrifugal pump, mungkin perlu vacuum pump juga kalau perlu kondisi vakum untuk recovery ethanolnya.
    Jenis media pertumbuhan biasanya rich medium atau defined medium untuk pertumbuhan yeast di tangki inokulum. Sedangkan di tangki besar cukup larutan gula.
    Bisa cek di http://yalun.wordpress.com/2008/08/24/jenis-raw-material-yang-cocok-untuk-industri-fermentasi-bagian-1/
    dan di http://yalun.wordpress.com/2008/08/27/jenis-raw-material-yang-cocok-untuk-industri-fermentasi-bagian-2-glukosa-dari-starch-vs-sukrosa-dari-tebu/

    Kondisi operasi dibuat aerobic pada tangki inokulum dan semi-anaerobic di tangki besar. Temperatur sekitar 30 C. Tangki -tangki perlu agitator.
    Jenis mikroorganisme paling gampang ragi / yeast (Saccharomyces cerevisiae). Konsentrasi ethanol yang didapat biasanya sekitar 10-12 % v/v namun bisa lebih tinggi pada beberapa mutant yeast.
    Semoga bisa membantu.

  • adi_kupank said:

    @ Pak Yalun
    Pak, saya tertarik dengan produksi butanol yang bapak diskusikan dengan Pak Nugroho
    Apakah saya boleh minta jurnal tentang butanol?
    email saya : adi_kupank@hotmaul.com
    lalu saya ingin menanyakan tentang bakteri clostridium acetobutylicum
    yang saya dengar bakteri tersebut merupakan bakteri anaerob
    kl betul bagaimana cara memvakum kan fermentor nya?
    lalu dimana kira2 saya bisa mendapatkan bakteri tersebut?
    saya mencari di ITB dan ITB ternyata tidak ad…

  • Yalun said:

    Pak Adi,
    Membuat suasana anaerobic tidak dengan cara vakum. Kondisi vakum akan mengubah kesetimbangan uap-air dalam fermentor. Anaerobic dicapai dengan nitrogen sparging. Atau jika perlu dengan campuran 85/15 nitrogen/CO2.

    Jika Anda tinggal di Surabaya, coba ke perpustakaan Universitas Surabaya (Ubaya) di Rungkut dan cari buku Industrial Microbiology an introduction karangan Michael Waites.
    http://www.amazon.com/Industrial-Microbiology-Introduction-Michael-Waites/dp/0632053070
    Di buku ini banyak prosedur singkat fermentasi mulai ethanol, butanol, amino acids, food, industrial chemical, pharmacy, etc.

  • Yalun said:

    Oh ya mengenai biobutanol, saya punya tulisan.
    Jika Anda tertarik, silakan klik http://yalun.wordpress.com/2008/10/01/biobutanol-sebagai-biofuel-generasi-kedua-di-indonesia/

  • Bambang S said:

    Salam Kenal, Saya Bambang S dari Serpong.
    Sangat menarik materi ini. Yang saya dengar untuk mendapatkan produk akhir yang diharapkan juga sangat tergantung komposisi dari bahan baku. Misal singkong darul-hidayah yang bisa mencapai 50 kg per batang, namun memiliki komposisi yang berbeda untuk lahan yang berbeda.

    Bagi rekan yang berminat untuk menanam singkong atau bahan lain skala besar, ada kredit lunak tanapa agunan dari pemerintah. Syaratnya diantaranya 1. Lahan, 2. Kelompok Tani 3.Proposal.

    Kredit ini juga bisa berupa bantuan sapi (penggemukan), atau apa saja kegiatan kelompok tani yang riil. Dan pengembalian kredit setelah berhasil.

    Jika ada yang berminat saya bisa membantu menghubungkan dengan konsultan yang telah banyak berhasil dalam hal ini. Ada fee konsultan (nego).

    Terima Kasih, bambang_sudiyono@yahoo.com

  • agus yulianto said:

    kami : LEMBAGA PENGEMBANGAN USAHA MANDIRI Yang Beralamat : Jl. Krakatau 19 Ketapang - Probolinggo Jawa timur Menyediakan Alat Distilasi untuk Bio ethanol sekaligus pelatihan penggunaannya ! Bagi yang berminat Silahkan datang langsung ketempat kami. Untuk informasi : (0335)7608897 Email : agusyulianto@rocketmail.com

  • agus yulianto said:

    bagi yang membutuhkan alat distilasi bioethanol bisa menghubungi kami di : (0335)7608997 atau lewat email : Agusyulianto@rocketmail.com atau bisa datang langsung ke alamt kami : LEMBAGA PENGEMBANGAN USAHA MANDIRI Jl. Krakatau 19 Ketapang - Probolinggo Jawa timur !

Leave your comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled website. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.com.

1 Trackback/Pingback »