Pertamina versus Petronas
Banyak di antara kita yang berpikir bahwa bekerja di perusahaan migas asing ialah suatu hal yang amat membanggakan tanpa menyadari bahwa perusahaan asing tersebut pada dasarnya sedang mengambil keuntungan lebih untuk negaranya sendiri. Dan sekalipun begitu, kita tetap saja mengikuti proses seleksi kerja di salah satu perusahaan migas asing yang beroperasi di Indonesia. Termasuk saya, seorang mahasiswa yang baru saja lulus dan tergiur akan gaji dan fasilitas sebuah perusahan minyak dan gas.
Mengapa kondisi seperti itu bisa terjadi? Ada apa sebenarnya dengan industri minyak dan gas nasional kita? Sebagian dari kita menyalahkan perusahaan migas nasional kita yang kurang kredibel dan bonafit dan sebagian lain beralasan ingin meniti karir dengan standar internasional. Namun, bukan itu yang hendak saya bahas dalam artikel ini karena saya ingin mencoba menggali permasalahan tersebut dari sisi yang lain.
Beberapa hari yang lalu saya sedang mengisi waktu luang saya dengan melihat berbagai informasi yang tersebar di internet dan saya menemukan potongan artikel yang sangat menarik. Please enjoy reading this while listening to music and having a cup of coffee in the morning.. =p
Someone asked:
“Semua orang pasti sudah tahu bahwa Pertamina mempunyai sumber minyak yang banyaknya gak ketulungan. (halaah.. bahasanya..) Bila kita lihat Petronas, mereka tidak mempunyai sumber minyak di negaranya dan kalaupun ada, jumlahnya sangat terbatas jika dibandingkan dengan Indonesia. Dear all.. Do you know why Petronas grow faster and bigger than Pertamina??“
And the answer was:
“Yang mempunyai sumber minyak banyak adalah Indonesia, bukan Pertamina. Dalam hal ini, pemerintah memberi wewenang pada BP MIGAS untuk mengurusi pengelolaan kontrak perusahaan terhadap ladang minyak dan gas.”
Apabila diangkat dari aspek ekonomi politik, permasalahannya adalah karena BP MIGAS seringkali memberikan hak konsesi kepada pihak asing diluar Pertamina untuk mengelola suatu ladang minyak yang ada di Indonesia. Banyak alasan yang dilontarkan BP MIGAS dalam keputusan tersebut, katakanlah dengan alasan Pertamina korupsi, atau strukturnya yang masih payah, dikatakan tidak mampu secara teknologi, atau dibilang minim pendanaan. Alasan terakhir ialah alasan yang dikemukakan Pemerintah kita saat pengelolaan di Blok Cepu diserahkan kepada ExxonMobil dan bukan sepenuhnya kepada Pertamina.
Alasan-alasan tersebut bisa dikatakan logis namun juga agak dibuat-buat. Mari kita coba untuk meninjau alasan-alasan tersebut satu per satu. Alasan pertama: katakanlah Pertamina korupsi. Bukankah seharusnya Pemerintah bertanggungjawab memberantas korupsi yang terjadi di Pertamina? Atau mungkin Pemerintah tidak mampu memberantas korupsi di Pertamina karena Pemerintah dan DPR juga sedang sibuk korupsi? Atau mungkin karena adanya solidaritas sesama koruptor?? Entahlah.. hanya mereka yang tahu.
Alasan kedua ialah struktur dan sistem manajemen Pertamina yang belum benar. Bukankah seharusnya Pemerintah mempunyai tanggungjawab moral untuk mendorong Pertamina melakukan pembenahan internal? Apabila pengelolaan minyak dan gas malah diserahkan ke pihak asing, bukankah itu sama saja semakin mematikan Pertamina? Dan untuk alasan teknologi, Pertamina sudah memiliki teknologi yang udah diakui oleh Inggris. Sedangkan untuk alasan pendanaan, seharusnya keuntungan tahunan Pertamina jangan disedot besar-besaran untuk menutupi defisit anggaran atau malah dimasukkan ke kantong pejabat. Pertamina untung? Ya, sekalipun dengan adanya subsidi BBM atau apapun itu namanya, Pertamina masih menghasilkan untung yang sangat besar.
Pada poin pertama tadi, saya bermaksud memberi tahu bahwa Pemerintah kita kurang mendukung Pertamina sebagai perusahaan migas nasional. Apabila hal itu terus berlangsung, kapan Pertamina bisa maju? Keadaan benar-benar berbeda apabila melihat Petronas. Perusahaan minyak dan gas milik Malaysia itu menjalankan operasi yang didukung penuh oleh Pemerintah Malaysia dengan cara memberikan sebagian besar hak konsesi khusus ke Petronas dan bahkan mendorong Petronas untuk melakukan ekspansi ke luar negeri.
Pada poin kedua, saya ingin meninjau aspek bisnis industri minyak dan gas itu sendiri. Menurut saya, penyebab kekalahan Pertamina ialah inefisiensi pengeluaran. Banyak pengeluaran yang seharusnya tidak perlu dilakukan apalagi ditambah dengan pengeluaran yang kurang jelas juntrungannya. Sebagai contoh yang dapat kita lihat ialah biaya sewa kapal tanker. Biaya sewa tersebut sangatlah mahal dan dapat mencapai US$60.000 per HARI untuk SATU kapalnya. Nah, Pertamina menyewa kapal dengan jumlah lebih dari 140 padahal kapal Pertamina tidak lebih dari 30 buah. Apabila mau berpikir panjang, seharusnya Pertamina memutuskan untuk memiliki kapal sendiri sebagai investasi. Beberapa tahun yang lalu Pertamina sempat memiliki kapal tanker VLCC namun kapal tanker tersebut dijual oleh Menneg BUMN (Laks. Sukardi) saat Megawati menjabat sebagai Presiden. Dan apa yang terjadi sekarang? Ternyata penjualan tersebut dipermasalahkan karena adanya dugaan praktek korupsi dalam penjualannya.
Apabila diangkat dari aspek ekonomi politik, permasalahannya adalah karena BP MIGAS seringkali memberikan hak konsesi kepada pihak asing untuk mengelola suatu ladang minyak yang ada di Indonesia.
Bottomline, apabila ditinjau dari segi ekonomi politik dan bisnis, Pertamina akan sulit berkembang di masa depan bila kondisinya terus seperti itu. Sayangnya, kita sebagai warganegara Indonesia tidak bisa mengubah keadaan itu karena itu semua ialah keputusan petinggi-petinggi negara kita. Tapi setidaknya, kita dapat membantu Pertamina dengan membeli produk buatan Pertamina. Beli Produk Pertamina, Kita Untung Bangsa Untung.
Patut teman-teman ketahui bahwa di negara kita Indonesia yang kaya akan minyak ini, Pertamina hanya memegang 8 persen dari pangsa pasar migas di Indonesia dan sisanya dipegang Chevron, Total, Exxon, CNOOC, dan perusahaan migas asing lainnya. Walaupun hanya memiliki 8 persen pasar, Pertamina dapat menghasilkan keuntungan Rp35 triliun di tahun 2006. Coba bayangkan apabila 100 persen ladang minyak yang ada di Indonesia dipegang oleh Pertamina.
Di samping itu, 90% keuntungan Pertamina wajib diberikan kepada Pemerintah dan hanya 10% sisanya yang dapat digunakan Pertamina. Bagaimana dengan Petronas? Keadaan Petronas berkebalikan dengan Pertamina karena hanya 10% keuntungan Petronas yang diberikan untuk Pemerintah Malaysia. Itulah penyebab mengapa Petronas dapat melakukan ekspansi besar-besaran. Mengapa Pertamina sulit melakukan ekspansi? Keuntungan rata-rata tahunan Pertamina ialah Rp27 triliun dan hanya Rp2.7 triliun yang tersisa di Pertamina padahal untuk membangun sebuah kilang baru dibutuhkan dana sekitar Rp 13 triliun.
Referensi: KOMPAS, Yahoo! Answers


(25 votes, 4.36/5)
Hmm.. jadi keinget kemaren pas kunjungan pabrik ke Pertamina UP IV Cilacap.. gua inget banget ama kata sambutan dari Manajer Operasional nya.. dia ngasih tau hal yang PERSIS banget ama hal yang dipermasalahkan di artikel di atas.. dia ngasih tau kenapa Petronas bisa berkembang dengan pesat sedangkan Pertamina tidak.. ya masalah bagi hasil itu.. hehe.. Keuntungan Petronas memang sebagian besar untuk Petronas dan hanya sebagian kecil yang diambil oleh Pemerintah Malaysia.. Dia bilang kaya gt.. tapi walaupun begitu, dia juga bilang bahwa di Pertamina sedang ada restrukturisasi besar-besaran dan dia optimis bahwa Pertamina bakal jadi perusahaan migas yang jauhhh lebih baikk.. dia juga agak2 kampanye tentang iklan Pertamina di tv itu lho.. apa sih tagline nya gua lupa.. pokonya tentang Pertamina yang berubah deh.. banyak tuh stiker nya di angkot-angkot hehehe.. dia juga cerita tentang Pertamina PastiPas nya itu lho.. hehe.. yang sertifikasi pom bensin oleh auditor luar negeri mengenai masalah meteran dan fasilitas pom bensin yang bestandar baik..
dan ada hal yang menarik yang beliau ungkapkan.. dia bilang begini.. (I QUOTE) “Dalam 15 tahun ke depan, Pertamina bisa ngalahin Petronas.. dan dalam 30 tahun ke depan, bukan tidak mungkin Shell dapat dikalahkan..” Hehehe.. menarik.. gua dukung sepenuhnya.. Hehe.. dia juga cerita tentang Pertamina EP.. itu tuh anak perusahaannya Pertamina yang kerjanya di bidang eksplorasi dan produksi.. katanya ada tuh di luar negeri.. di negara Arab gt.. hehe.. keren juga.. hehe.. semoga dalam beberapa tahun kedepan kita bisa lihat pom bensin berlabel Pertamina di negara lain selain Indonesia.. hehehe..
wahh.. gila nih.. bener-bener artikel yang berani dan sarat akan kritisi dan politisasi.. btw yang nulisnya berani bgt ya.. btw itu kan potongan artikel yahh.. nah kalo pendapat penulis sendiri gimana? lagi dalam proses seleksi kerja di perusahaan migas asing kan? nah ngeliat pertamina yang seperti itu, seharusnya kita gimana sih sebagai sarjana Teknik Kimia yang sedang mencari kerja? Hehehe.. hayooo..
@Dipa:
Waduh gitu aja kok repot? (minjem kata2 Gus Dur) Begini opini saya, kita semua kan tahu klo kerja/bisnis itu ujung2nya duit y kan? Tapi saya kembali bertanya apakah ujung2nya duit itu? hayoo..
Ujung2nya duit ya macem2, mau positif bisa, mau negatif bisa (ngedrugs, ngebunuh org, jg pke duit lho hehe). Nah, maka dari itu balik ke diri kita sendiri mau gimana? Spt misalnya kita tidak bekerja di Pertamina, yah beli aja produknya (Beli Produk Pertamina, Kita Untung Bangsa Untung), ato kita mencoba gak mau idealis (misalnya krn sakit hati sm pemerintah) kita bs membantu sesama org Indo lainnya mau ikut serta dalam program orang tua asuh, mau nyumbang2 ke panti asuhan, dan lain sebagainya.
Nah, bgmn kira2 sudah paham? Banyak hal positif lainnya yg bisa kita lakukan dan mungkin itu jauh lebih baik daripada memikirkan/mengkritik terus2an pemerintah kita ini yg msh bobrok. Ok, moga2 jwbn dr saya bermanfaat. Tq.
Hmm.. ikutan ngomong ah.. hehe..
pertama, menurut saya kritik terhadap pemerintah itu penting.. kenapa? saat kritik itu ada, tandanya masyarakat itu masih peduli ama pemerintah.. itu sebenarnya suatu bentuk ‘perhatian’.. hehehe.. namanya manusia kan susah ‘memuji’.. jadi yang muncul cuman ‘kritik’.. hehe.. lagian pujian lebih mudah dilupakan dibandingkan kritik.. jadi cuman ‘kritik’ lah yang heboh berkumandang di pemerintahan.. hehe..
kalo kita mau mendukung Pertamina tapi cuman begitu doang sih kurang konkrit menurut saya.. maksudnya gini lho.. kita tuh lulusan teknologi proses kan.. salah satu disiplin ilmu yang dibutuhin banget ama Pertamina.. itu udah jelas.. kalo kita tetep2 aja kerja di perusahaan laen ya sama aja boong.. kalo semua orang berpikir kaya gt, siapa yang bakal masuk Pertamina?? itu sama aja kaya lagi ada pemilu dan kita bilang ke kandidatnya,
“gua ngedukung elu banget! tapi gua milih calon yang laen..”
bullshit banget kan? sama hal nya dengan solusi di atas..
“gua ngedukung banget Pertamina jadi nomer satu di Indonesia.. tapi gua gak ikut andil deh.. sori, gaji di Chevron lebih gede man.. gua dukung dalam doa aja ya..”
itu jelas2 omong kosong. kenapa? karena kita lulusan Tekim.. lain halnya kalo kita lulusan Sastra Inggris ato Teknologi Pertanian yang jelas2 gak ada hubungannya ama industri migas sehingga perannya pun bisa dibilang gak ada.. jelas2 andil kita itu besar.. sangat besar malah..
beli produk Pertamina? hmm.. kok agak gak logis ya.. maksudnya gini.. anggaplah kita sedang bekerja di Shell.. lalu kita mo be bengkel mau ganti oli mesin.. produk mana yang kita beli?? Shell ato Pertamina?? Bukankah logisnya kita bakal beli produk Shell ? Jelas2 kita kerja di Shell.. belum lagi kalo kita ternyata jadi tau tentang kualitas produk Shell yang sebenarnya karena kita emang kerja di Shell.. kalo ternyata emang lebih bagus, masa kita masih beli Pertamina?? lain halnya kalo kita kerja di Pertamina.. pasti yang kita beli tetep produk Pertamina..
“program orang tua asuh, mau nyumbang2 ke panti asuhan, dan lain sebagainya.”
Kalo itu sih menurut saya udah kewajiban.. mo kita kerja dimana juga hal seperti itu sudah seharusnya kita lakukan.. hal seperti itu sih kurang pantes lah untuk dijadikan alasan untuk tidak membantu Pertamina secara konkrit..
ada empat alasan yang dikemukakan di atas: korupsi, struktur manajemen, teknologi, dan dana..
menurut saya sih solusi konkritnya ialah kerja di Pertamina.. dengan semakin banyaknya karyawan yang berkualitas pastinya secara keseluruhan struktur dan manajemen Pertamina bakal membaik.. apalagi kalo karyawan-karyawan tersebut ialah orang-orang yang punya pemikiran luas.. wonder why struktur Pertamina bobrok? ya karena karyawan-karyawannya emang bobrok.. dan karyawan yang gak bobrok nya lagi kerja di perusahaan tetangga. teknologi juga pasti bakal membaik.. kan yang pinter-pinternya masuk Pertamina.. knp teknologi Pertamina dilihat sebelah mana? ya abisnya lulusan yang pinter-pinternya gak kerja di Pertamina.. kan mereka lagi ngaso di perusahaan sebelah.. kalo soal korupsi dan dana, masalah itu akan teratasi kalau memang kualitas SDM nya sudah baik.. dan setelah itu, gak ada lagi alasan pemerintah untuk meng-anaktiri-kan Pertamina..
no offense bro.. artikel lu bagus banget! tapi yang namanya opinions ya emang begini.. rentan terhadap sanggahan.. (dan juga dukungan..) hehe..
Salam,
Anindya Bima Abirama
Wew, thx for the critics.
Hahaha sbnrnya sih waktu itu Pertamina lg ga buka lowongan, bro, trus ada perusahaan asing yg buka, gw masukin cv dan ternyata cepat difollow up. Klo anda jadi gw pasti ga akan menyia2kan kesempatan bukan?
But btw, do u really want to help Pertamina by being an employee there or just only chit chat?
Lalu apa yg seharusnya kita lakukan untuk membantu Pertamina kalau kita tidak bekerja di sana? Dan jgnlah menjudge begitu, org pun bekerja di Shell mgkn2 aja beli produk Pertamina atau isi bensin di SPBU Pertamina bukan?
Peace, bro, thx again for ur opinion!
Hmm..
Kalo orang2 dengan pemikiran idealis dan kemauan teguh seperti bung Abirama pada berminat masuk Pertamina saya bisa optimis ada perubahan positif
Cuma yang perlu diingat adalah tiap orang ga sama jalannya bos
Saya saat ini juga kerja di perusahaan asing (bukan oil & gas sih)
Ga mau munafik.. salah satu alasan saya memilih untuk kerja di sini adalah faktor gaji
Tapi jangan salah bro.. saya juga masih menyimpan keinginan untuk membawa indonesia maju (iyalah.. semasa kuliah didoktrin terus menerus)
Cuma jalur yang saya tempuh berbeda.. Toh ga salah kan klo saya beralasan mau mencuri ilmu dulu di sini
Ga beda kan sama temen2 yg kuliah di nagri
Dosen2 saya.. senior2 saya juga banyak yang bekerja di perusahaan asing dulu.. Sebelum akhirnya kembali ke indonesia
Malah dalam opini saya ada nilai tambah dalam kontribusi mereka, karena jelas punya pengalaman dan pengetahuan ekstra ketimbang fresh graduate saja..
Saya mengutip komentar salah satu senior saya: ~Banyak jalan menuju Roma, dan Roma ada di mana2~
Dan tambahan dari saya.. Apapun jalannya kita akan sampai ke Roma, asalkan niat/tujuan kita memang ke Roma
Yah doakan saja supaya idealisme saya masih tetap seperti ini nantinya ketika saya siap kembali ke indonesia.. dan ini bukan sekedar dalih saja untuk menjaga harga diri saya.. amin!!
Satu lagi bro..
Tolong jangan keluarkan opini yang menggeneralisir
Dalam hal ini statement yg tentang karyawan Pertamina bobrok2..
Wah, bisa ngamuk2 tim perekrutan karyawan barunya tuh.. dianggap tidak berhasil
Apalgi setahu saya standar untuk masuk Pertamina tinggi..
No offence juga ya!!
Statement anda opini juga kan? Jadi saya masih berhak menyanggah ya, lol
benar-benar pedebatan yang sangat menarik.. sehari dapet 7 komentar lho.. (termasuk ini).. hehehe.. ya ini semuanya isinya opini sih.. mulai dari artikel sampai komentarnya pun semua itu opini pribadi.. dan itulah seninya berpendapat.. suatu masalah bisa dipandang dari berbagai aspek dan dengan berbagai sudut pandang.. satu aspek aja sudut pandangnya bisa ada banyak..
intinya sih gua setuju bahwa Pertamina emang harus jadi nomer satu di Indonesia.. ya mungkin bung Abirama sangat idealis dan konkrit banget kali ya keinginannya untuk mewujudkan hal itu.. ya seperti yang dikutip Lintang, “ada banyak jalan menuju Roma.” dan gak cuman itu aja karena, “Roma ada dimana-mana.” (hehehe.. baru pertama kali denger tuh yang kutipan kedua.. hehehe…) jadi ada banyak cara untuk mewujudkan mimpi itu.. bisa aja kan kalo gua menempuh cara jadi presiden dan mengubah regulasi yang ada agar bisa mendukung Pertamina?? Hahahahaha…
nah, dari semuanya itu gua bisa menyimpulkan bahwa selama kita pemuda-pemuda penerus bangsa ini masih bisa mengedepankan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi kita sih gua yakin Pertamina dan semua industri Indonesia bisa maju dan bersaing dengan industri-industri asing yang ada.. bukan sok nasionalis ato sok idealis ato gimana.. gini deh.. gua yakin kok warga Amerika yang dicap indivualis sekalipun masih peduli ama masa depan negaranya.. nah masa sihh warga Indonesia yang jauh lebih memiliki kebersamaan dan kekeluargaan gak bisa peduli ama negaranya?? apakah ini idealisme omong kosong??? sekali lagi gua mo ngutip Lintang.. “banyak jalan menuju Roma..” dan artinya ada banyak jalan untuk memajukan Indonesia.. jadi jangan langsung memandang sebelah mata dan menganggap hal2 seperti ini sebagai idealisme dan mimpi belaka.. mulai dari hal yang kecil kita bangun Indonesia.. hehehe..
btw gambarnya memihak nih. masa foto pertaminanya keren gt tapi yang petronasnya biasa aja. hahahaha..
Yup betul, banyak jalan menuju Roma dan Roma ada di mana-mana. Banyak cara meningkatkan kinerja Pertamina dan Pertamina ada di mana-mana (lho?). Yah spt yg sebelumnya gw utarakan bahwa kita kerja ujungnya duit dan ujungnya duit bermacam-macam.
Kita dapat membantu Pertamina dengan mengambil bagian dalam pemerintahan kemudian ataupun membuka perusahaan konsultan di bidang migas untuk bekerja sama dengan Pertamina, pokoknya macam-macam.
Namun sebenarnya saya perlu mengklarifikasi sedikit bahwa artikel ini sebenarnya lebih ditujukan untuk masyarakat pada umumnya dan kita sebagai insinyur teknik kimia pada khususnya. Apakah yang dapat diperbuat masyarakat awam untuk membantu Pertamina selain membeli dan menggunakan produknya?
Sebenarnya kan ada banyak produk Pertamina yang sehari-hari kita gunakan, seperti Elpiji. Produk lain seperti minyak pelumas bensin (Prima XP, Mesran Super, 2T Enviro, dll) mungkin saja kalah pamor dibandingkan pelumas lain. Namun apakah jika anda memiliki mobil2 kelas 2 atau motor yang tidak terlalu mentereng mau membeli minyak pelumas lain dengan harga yang lebih mahal? Anda harus berpikir 2 kali mungkin. Seperti saya yang kebetulan memiliki Kijang yang telah berusia 10 tahun, udah mulai rewel sehingga tune-up bisa 1-2 bulan sekali. Saya berkonsultasi dengan montir bengkel bahwa pelumas Pertamina sebenarnya juga sudah bagus untuk mesin2 mobil buatan Jepang.
Ok itu saja sharing dr saya semoga bermanfaat.
iy tuh mustinya promosi produk2 pertaminanya lbh gencar lagi.. marketingnya hrs pol2an (klo perlu kerja sama sm prusahaan MLM sekalian hihihi). btw yg nulis keren juga hehehe, yuk maen catur be2 sm aku.. btw bentley y itu, boong bgt klo punya…
iya.. bener juga Vega.. tapi kalimat ketiga dan selanjutnya gak tau sih. wkwkwkw.. btw mo nambahin.. kampanye Pertamina yang lagi heboh sekarang tuh PERTAMINA ON-THE-MOVE namanya.. hehehe.. semoga Pertamina berhasil.
btw gua denger info katanya di Januari 2008, subsidi PREMIUM bakal dicabut ya? katanya harganya bakal jadi 6500-an tapi nilai oktannya naek dari 88 jadi 90.. bener gak sih?? nah, berhubungan dengan artikel ini: “dengan dicabutnya subsidi bensin, kira-kira Pertamina bakal makin makmur, makin terpuruk, atau biasa aja kira2?”
Gw rada setuju sama bung Lintang
kita emang punya idealisme masing2 seperti bung Abirama
secara pribadi gw juga pengen berbakti buat negeri
tapi kalo kita emang ‘belum punya apa2′ untuk dikasih… yah sama aja boong
mending ‘belajar’ dulu dari perusahaan asing. ambil ilmunya,ambil gajinya (hehehe) tapi jangan buang nasionalisme
seperti kata pepatah “You cannot give what you don’t have”
jadi kalo modal kita cuma pendidikan S1 (4 tahun) yah cuma itu yang bisa kita kasih buat negeri
minim sekali kan
tapi kalo kita punya pengalaman di luar(di Petronas, Total, Chevron, etc) kita bisa balik ke Indo dengan pengalaman kita yang segudang dan bisa bermanfaat buat negeri tercinta
Hmm yah kita sih maunya pertamina makin maju lah ya hehhee, bgmn bung jubel? Oh y skrg udah ada loh SPBU Petronas di indonesia. Gw bru kmaren tahun baruan ke medan katanya udah ada 5 d sana. Jadi klo dari bandara polonia ke arah jl. juanda dah ada tuh 1, SPBU-nya gede, warnanya kinclong ijo dan ada swalayan di dalemnya ckckck…
Lintang, hihi, tetep lintang memang…
mmhh…, mang bener banyak banged lho jalan menuju roma. jalan ngebangun bangsa kan ga cuma satu, ga cuma jadi enterpreneur (walupun ini kayaknya paling bagus), banyaklah dan orang boleh dung milih jalannya sendiri2… kita suka ngabisin energi buat saling kritik satu sama lain.
masuk pertamina juga kalo ga salah susah da, dan seleksinya banyak. dan gajinya kecil dibandingkan oil company asing, jadi orang yang masuk sana bener2 harus idealis dan menjaga idealismenya biar ga luntur jika sewaktu2 terjebak dalam lahan basah.
masuk company asing, well, kalo kita dah nikah, punya bayi, dan nengok harga susu, mungkin ngerti kali yah kenapa sebagian orang masuk sana. selain tentu juga pengalaman dan pengetahuan, juga jalan2 keliling dunianya. ada temen saya mantan pertamina, 5 bulan di training ke amerika, begitu pulang, berenti dan masuk company asing gara2 dia mau segera menikah. again, orang kayak gitu juga pasti punya pertimbangannya sendiri2. kalo saya sih dulu mikir, tau ga berapa banyak uang yang dikeluarin BP migas buat ngelola sumur2 minyak di duri yang cuma kota kecil gitu? dan kalo semua pekerja di sana orang asing, berapa banyak uang kita yang lari keluar. saya sih mikirnya kan daripada menggaji orang asing mending ngegaji orang sendiri
tapi yah kalo mengingat ituh, bahwa fasilitas dan semua gaji itu yang bayar juga sebenernya negara, saya suka menuntut diri saya sendiri untuk bekerja seefisien mungkin dan hidup seekonomis mungkin, hihi, cuma bisa sebatas itu. dan susssaaaaaahhhh banged melepas semua kenikmatan dan fasilitas yang pernah kita nikmati, susah banged ngelepas gaji 8 digit, susah banged ngeliat temen2 kita yang bekerja tidak lebih baek daripada kita tapi bisa tetep menikmati semua fasilitas yang tidak lagi bisa kita nikmati, balik lagi siy ke idealismenya masing-masing…sebenernya idupnya mau dipake ngapain, nyari uang sebanyak2nya atau apa.
well, saya sih sekarang berusaha melarikan diri dengan studi lagi. tapi juga mikirnya kalo nanti pulang ke indo ternyata ga bisa berkembang, ga ada salahnya kan buat tetep di sini
saya sebenernya suka bingung apa ya yang salah dengan negara kita. toh orang asing juga ga segitunya lebih beradab, lebih disiplin, lebih bersih. yang bagus yah cuma sistemnya. cuma pengelolaannya. kalo individu dihadapkan individu saya yakin kita ga kalah kok.
well, anyway…saya mikirnya tetep berpikiran terbuka ajah, tetep terus melangkah…naonnya….(teguran buat diri sendiri yang tiba2 ngerasa patah semangad….:D juara di kandang macan, pecundang di kandang singa)
Hmm… menarik yah baca comment dari akang-akang & teteh-teteh yang sudah melanglang buana di dunia kerja… hehe… jadi bisa belajar banyak membangun idealisme… (wah-wah kesannya aku muda banget yah, padahal dah mau lulus S1 nih :D)…
Kerja di perusahaan asing, apalagi oil & gas company yang notabene menawarkan gaji selangit tentu jadi incaran fresh graduate… yah siapa yang gak tertarik dengan perubahan status mahasiswa yang kantongnya selalu kosong jadi berkantong tebal hanya dengan beberapa bulan saja… selain gaji, bayangan saya sebagai seorang calon fresh graduate kerja di perusahaan asing memang menyimpan tantangan tersendiri yang menurut saya bisa nambah pengalaman banget sebelum kembali ke idealisme masing-masing… Teknologi yang modern, advance & selalu update, profesionalisme, the real software (bukan software bajakan yang kadang-kadang crack-nya kurang ampuh), networking with so many people… hmm it’s so interesting (ini hanya bayangan saya saja, reality?? saya belum tahu karena saya memang belum pernah kerja di perusahaan asing)…
Masalahnya… mampukah PERTAMINA memberikan itu semua?? teman saya yang pernah kerja praktek di salah satu unit pengolahan di PERTAMINA pernah bercerita tentang ketidakprofesionalan karyawan PERTAMINA dan membuatnya tidak ingin melamar di PERTAMINA ketika dia lulus nanti… So, salahkah kita belajar itu semua dari perusahaan asing????
Yup.. setuju sama akang Lintang… yang penting Idealisme qta.. qta mau nggak mengorbankan gaji kita turun seratus kali lipat demi idealisme kita membangun Indonesia? (sesuatu yang telah dicontohkan dosen-dosen saya ketika mereka “curhat” di sela-sela pembicaraan LABTEK)… kalo blum bisa, maka saya setuju dengan pendapat akang Sesep untuk setidaknya menggunakan produk dalam negeri & isilah bensin di SPBU PERTAMINA… bagaimanapun PERTAMINA lagi ON THE MOVE-kan?? PERTAMINA gak diam aja kan dengan datangnya SPBU PETRONAS & SHELL?? yup bagaimanapun qta juga harus berterima kasih sedikit dengan keadaan masuknya perusahaan asing ke Indonesia, karena dengan begitu PERTAMINA terbangun dari tidurnya dan bergerak untuk bersaing… Hehe.. so Let’s keep our idealism & keep support our national company…
sepertinya beberapa komen terakhir mengarah ke komennya Abirama yang sangat kontroversial dan idealis.. hehe..
tapi ada satu hal yang agak membuat saya bingung.. sebenarnya kenapa ya perusahaan asing terlihat begitu mewah? apa hanya karena ada embel-embel “milik luar negeri?” maksudnya gini lho.. coba kita lihat pertamina.. mungkin yang udah pernah KP ato kunjungan pabrik bisa tau.. lihat pabriknya.. lihat alat-alatnya.. lihat control room nya.. lihat orang-orangnya.. lalu kita bandingkan dengan Chevron? apakah kita menemukan perbedaan yang besar? tidak. bahkan hampir tidak ada. pabriknya ya begitu-begitu saja. toh sering bgt perusahaan migas luar negeri pake EPC dari Indonesia. alatnya? ya sama-sama aja.. toh proses nya juga gitu-gitu aja.. control room? ya sama.. semuanya ya gt.. berAC.. panel-panel.. panel Chevron gak terbuat dari berlian kan.. lalu orangnya? sama-sama juga. bisa dibilang jumlah orang Indonesia nya mendominasi dengan amat sangat.. lalu kenapa ya tetep aja image perusahaan asing itu lebih baik??
jadi saya agak bingung saja.. alangkah amat disayangkan sekali apabila semuanya hanya didasarkan oleh IMAGE.. walaupun ternyata itu memegang peranan yang paling besar.
dan itu membawa saya kepada pertanyaan yang kedua.. Pertamina E&P beroperasi di luar Indonesia kan.. nahh apakah penduduk setempat (penduduk negara tersebut) menganggap Pertamina E&P yang beroperasi di negaranya sebagai perusahaan hebat “milik luar negeri” yang amat patut untuk dimasuki? dan kalau ternyata iya begitu, semakin amat disayangkanlah keadaan di dalam negeri kita. Pertamina seperti tidak dihargai di kampungnya sendiri. Hehehe..
Hihihi idealisme yah memang sulit…
Hmm aku mau kasih comment, memang bner klo dari sudut pandang wanita seperti saudari Hanifah klo melihat kondisi harga barang2 keb pokok yg smakin mhal kita harus cari solusinya.
Mgkn bagi tmn2 mhsiswa demo sgala macem bisa mnjadi solusi utk menurunkan harga, tp coba kita lihat dr sudut pandang kitanya sendiri dan bukannya pemerintah. Pemerintah sdh berusaha sedemikian rupa toh akhirnya naik juga, mengapa kita tidak berusaha untuk mencari penghasilan tambahan untuk menutupi hal2 tersebut.
Klo dilihat dari tren memang sepertinya bukan tidak mgkn ke depannya bakal ada barang2 keb lain yg bakal naik harganya, spt kedele skrg ini yg banyak menimbulkan kontroversi. Which is, klo tmn2 sbg fresh grad pikirkanlah dahulu utk keb kalian ke depan. Spt rencana berkeluarga, memiliki rmh/kendaraan, dll yg membutuhkan dana yg tidak sedikit. Memang uang bukan segalanya, tp segalanya butuh uang bkn?
Jadi klo kalian memang kompeten utk bekerja di perushaan asing, why not? It’s a gift from GOD, don’t miss it and u should thank GOD for it. Atur keuangan utk ke depannya bgtu.. Klo yg tidak jg gpp, jgn berkecil hati, spt kt saudara Lintang banyak jalan menuju Roma dan Roma ada di mana2. Carilah pngalaman sebanyak2nya dan jgn lupa prinsip ora et labora…
Congratulation Sesep!!!
Aku pikir ada hal yang sangat mendasar kenapa Pertamina-ku jalannya tertatih-tatih sejak mula berdiri sampai sekarang. Pada awal masa jayanya dulu di tahun 70-80 an, kenikmatran yang diperoleh tidak seutuhnya di projeksikan untuk kehidupan masa depan bangsa tapi lebih seperti orang miskin yang kejatuhan rejeki sehingga tak satu pun dari jajaran pengelola Pertamina atau pun penggede negara kita saat itu memikirkan generasi masa depan yang notabene adalah kita-kita ini sekarang.
Agak sulit membandingkan pertamina dengan Chevron, Shell, BP, Total, atau Exon-Mobil. Yang dilakukan oleh Petronas pada saat initial stage development adalah melakukan benchmark dengan perusahaan yang mempunyai type management yang sama sementara menggandeng mitra asing dalam pengawasan management Petronas tidak menyerahkan seluruh pengelolaannya pada pihak lain. Saat yang sama mereka mengirim potential engineer yang mempunyai dedikasi dan komitmen untuk mengembangkan Petronas ke luar negeri untuk belajar. Teman-teman akan ingat berapa banyak young engineer dari Malaysia belajar di Pertamina pada saat itu dan sekarang mereka menjadi pioneer masa depan Petronas.
Saya pikir tidak ada kata terlambat, Ibu pertiwi harus mulai melihat dengan baik dan cermat apa yang dilakukan Saudi Arabia dengan Aramco dan Sabic-nya, Qatar dengan QP dan affiliatenya, dan negara lain yang juga punya ketergantungan dengan pihak lain/asing tapi mereka bisa mengendalikan sesuai dengan kebutuhan dan kemakmuran negara dan bangsa kita.
Saya inghin juga menyarankan Pertamina dan Ibu Pertiwi menarik semua teman-teman yang berprestasi di perusahaan-perusahaan benchmarking point dengan menjamin pula kesejahteraan mereka seperti apa yang mereka dapatkan sekarang. Jangan lupa libatkan temen-teman muda yang berbakat dan punya visi kebangsaan yang sejati BUKAN POLITIKUS KARBITAN yang punya visi bagaimana mengembalikan modal yang dipakai untuk kampanye atau menuju posisi sekarang.
Untuk berubah menjadi perusahaan yang tangguh, banyak sisi yang harus diperbaiki Pertamina :
1. TInggalkan Mental KORUP
2. Pemenang Tender, hendaklah yg benar2 kompeten bukan yg menyogok Pertamina atau preman
3. Tinggalkan Mental Angkuh, Sombong.
waaaah,,gara2 artikel ini gw jd teringat cerita yg menyedihkan saat sedang kul di University Kebangsaan Malaysia.
Wktu ituh ada talkshow gtu. Penceramahnya dari Petronas. Dy menjabat sbg senior operation manager petronas,,
trs wktu sblm mule acara,, dy nanya apkh ada org indo dsini??
sblm gw nunjuk tangan,,trs dy blg ga ada yah,,ya udh,,gw ga jd tunjuk tangan,,
Trs tiba2 dy langsung berceloteh menjelek2an Indonesia,,
“INdonesia,,katanya sih org2nya bekerja untuk BANGSAKU!!!” maksudnya “BanK dalam Saku sendiri,,alias org indo suka korupsi,, trs dy membanding2kan Petronas ama Pertamina,,
Dy melihatkan daftar 12 perusahaan minyak terbesar di dunia,,trs lngsg nyeloteh lagi,,”lihat petronas di urutan 11,,mana pertamina???” katanya,,,”Pertamina ga maju krn mental org2 indo adalah mental korup!!dulu pertamina ituh kita panggil “abang” krn kita belajar dr sana,,tp lihat skrg petronas lebih maju dr pertamina”"”
huaaaaaaaaaa hati ini panas rasanya dengerin celotehan2nya yg pedas,,pengen nonjok tuh org,,hehehe,,tp ya mw gimana lg,,emang kya gtu kenyataan bangsa Kita ini,,huhuhuhu,,,
makanya,,kita sbgai penerus bangsa Indonesia,,kita harus merubah itu semua!!!
Majukan bangsa kita,,Tinggalkan mental korupsi,,
I Love n Proud to be Indonesian,,;)
mudah2an dengan adanya UU migas yang baru Pertamina dapat lebih meningkatkan lagi kinerjanya agar dapat bersaing dengan perusahaan asing dan jangan sampai pertamina menjadi ‘perusahaan asing’ dinegeri sendiri
Jadi pengen nambahin dikit. heheheheee, tanpa berpikir sinistik tapi berita sekitar 3 empat hari yg lalu (lupa tepat nya) Petronas meraup keuntungan RM. 60 milliar (blm d konversi ke Rupiah lho..). Pengamatan awam saya mengatangan alasan mengapa negara tetangga kita ini lebih cepat pertumbuhan ekonomi karena mereka disiplin dalam bekerja.walau sebenarnya banyak lagi faktor lain yang tak kalah pentingnya. Mind Set para pembangun negara ini (walau banyak juga yang aslinya Indonesia lho….atau dengan kata lain lahir Indonesia, dan mencari makan di Malaysia karena berpotensi dapet IC (KTP) karena berpotensi) telah dinbentuk dengan cukup baik.
Satu hal Terpenting lagi Tolong dipikirkan adalah Hak Cipta dari karya kita kita, anda-anda, dan smua orang pinter Indonesia, karena Malaysia bisa saja mencuri tekhnoli ini dan mengklaim nya. Sebagai Informasi dari pihak pencinta negaraIndonesia di Kotakinabalu, Sabah, Malaysia sering melakukan survey ke IPB atau daerah berpotensi lainnya di Indonesia untuk di kembangkan di Malaysia…heheheheheee
Mudah-mudahan ada yang ngebahas ini lebih dalam nantinya. TQ
Petronas cepet banget lho masuk & ‘bermain-main’ di Iran untuk bidang Oil & Gas.
Pertamina kalah … “lelet” kalau kata orang sunda sih …
Perusahaan Indonesia yang duluan masuk ke Iran untuk bermain-2 di bidang Gas malah perusahaan swasta : Star Energy …. pake nama Star Petrogas.
Padahal kalau dilihat kondisi cadangan Oil & Gas di Iran … wah … orang-2 dari BP dan Total saja sampe ngileeeeerrrrr … sampe-2 USA harus mengancam mereka untuk tak masuk ke Iran …
bagaimana tidak, cadangan Gas Iran no 2 di dunia, cadangan Oil Iran juga masih no 3 di dunia.
USA gitu deh … di bidang Oil & Gas, nggak mau & ngelarang-larang yang lain-2 masuk Iran lewat pintu, tapi lalu USA diam-2 masuk Iran lewat jendela, lewat lubang angin, lewat pintu belakang … alias nyolong !!!
seperti juga USA nyolong minyak di Iraq !!!
Back in 1974, when the Petronas initially being set up.. the company that had been Petronas role model and mentor is Pertamina.. Even most of the company structure is based to the Pertamina before. Petronas went overseas only in the early 1990’s.. it is said that the reason why Petronas go oversea is because the oil reserve in Malaysia is depleting..
Now, based to fortune 500, Petronas is the most profitable company in Asia.. 40% of the Petronas revenue came from domestic consumption. Now, Petronas is deemed as one of the seven sisters in O&G by financial times.. so what is seven sisters..? please do the research about it..
Hmm… why dont pertamina come and learn from Petronas instead..? i think that’s a better idea.. cheaper cost and Petronas owed Pertamina in sense of technical help and expertise before.
yah memang pertamina sekarang banyak korupsinya, payah deh mending tu perusahaan di buat go publik listing di BEI biar kelihatan boroknya. Sebenarnya profit pertamina per tahun mencapai 50 - 70 trillion itu didapat dari penjualan bbm subsidi dan juga keuntungan dari anak persahaannya yang cukup banyak. Cuma keuntungan ini udah di korupsi, coba aja lihat mantan - mantan direksi pertamina yang pada punya uang di luar negeri.
sebelumnya saya minta maaf kepada rakyat indonesia khususnya alvin atas kenyataan seorang penceramah dari petronas yang memandang rendah pada orang indonesia…sesuatu hal yany amat saya kesalkan dan memalukan bagi saya..sebenarnya kami orang malaysia amat sedih akan apa yang sedang berlaku di perusahaan minyak dan gas indonesia,,,pertamina..sekiranya pertamina lebih baik dan kedepan dari petronas ,,,tentulah antara 2 perusahaan migas ini boleh bersatu tampa bergabung untuk peneroka industri migas di seluruh dunia tampa menghadapi tekanan USA.tapi yang berlaku adalah sebaliknya,,,petronas bersendirian menerokai migas antarabangsa dan dalam masa sama menghadapi tekanan USA agar tidak melabur di iran..shukur alhamdulillah pihak kerajaan malaysia masuk campur dan perkara ini dapat dibendung..sudah tentu jika ada azam dan rasa tanggungjawab keatas negara,,pertamina dapat maju suatu masa nanti…tidak salah dan tidak perlu malu untuk pertamina belajar sesuatu dari petronas..
Leave your comment!
6 Trackback/Pingback »
More articles from this category:
More articles from this author:
Quotes of the Day »
"The engineer has been, and is, a maker of history."
Artikel Terbaru »
Teknologi Gas-To-Liquid (GTL)
Research Project of the University of Maastricht
CHE Softwares: Free, Demo, and Sharewares
CHE Around Us: Refrigerators
Event: Engineer’s Week (Pekan Insinyur)
Biogasification of Lignite Coal
Gasifikasi Batubara dengan Unggun Terfluidakan
Pembakaran Batubara dengan O2/CO2
IGCC: Major IGCC Sections (2)
IGCC: Technology Overview (1)
Komentar Terbaru »
Co-production of Bioethanol (84)
Teknologi Pengolahan Sampah (28)
Penggunaan Jamur Lapuk Putih dalam Penghilangan Warna Limbah Tekstil (11)
Chemiformers: lab cars go green! (20)
Integrated Coal Gasification Combined Cycle (26)
EPC? Engineering, Procurement, and Construction (47)
Majari at Flickr »
Topik Populer »
biodiesel biomass biotechnology business catalyst chemistry coal consultant energy equipments Event food fuel cell geothermal global warming green Indonesia life materials membrane nanotechnology oil and gas press release process control process design products reaction safety separation software students universities waste treatmentWeb Links
University Links
Arsip »
Majari Networks
Browse categories
Most Popular
Most Discussed
Most Emailed