Random Article:

Teknologi Pengolahan Limbah B3 (32)

Home » Artikel » Teknologi

Penggunaan Jamur Lapuk Putih dalam Penghilangan Warna Limbah Tekstil

Teman-teman tentunya pernah melihat, pada tunggul kayu yang telah mati, di musim hujan terkadang ditumbuhi jamur putih yang penampilannya besar dan liat. Tidak dapat dijadikan sumber pangan, dan malah membuat kayu rumah menjadi lapuk, seringkali orang hanya melihatnya sambil lalu dan menganggapnya tidak berguna. Ternyata jamur tersebut memiliki manfaat lain, yaitu sebagai pendegradasi zat warna di dalam limbah tekstil.

Karakteristik utama dari limbah industri tekstil adalah tingginya kandungan zat warna sintetik, yang apabila dibuang ke lingkungan tentunya akan membahayakan ekosistem perairan. Zat warna ini memiliki struktur kimia yang berupa gugus kromofor dan terbuat dari beraneka bahan sintetis, yang membuatnya resisten terhadap degradasi saat nantinya sudah memasuki perairan. Meningkatnya kekeruhan air karena adanya polusi zat warna, nantinya akan menghalangi masuknya cahaya matahari ke dasar perairan dan mengganggu keseimbangan proses fotosintesis, ditambah lagi adanya efek mutagenik dan karsinogen dari zat warna tersebut, membuatnya menjadi masalah yang serius. Tentunya teman-teman tidak mau bukan memakan ikan yang sudah tercemar?

Pengolahan limbah fisika-kimia yang sudah ada sangatlah mahal, dan dapat memberi masalah lingkungan yang baru, yaitu dihasilkannya lumpur dalam jumlah yang besar. Terlebih lagi, penghilangan zat warna tidak dapat berlangsung secara optimal, tetap tertinggal zat warna dalam kadar cukup tinggi di dalam air hasil pengolahannya. Oleh karena itu, dengan ditemukannya metode pengolahan limbah tekstil menggunakan jamur ini, kita tentunya dapat berharap dengan makin terwujudnya industri tekstil yang eco-friendly.

Jenis Jamur yang Digunakan

Seperti yang tadi dikemukakan di atas, jamur yang berperan di dalam proses ini merupakan jenis jamur lapuk putih (white-rot fungi). Jamur ini merupakan jamur dari jenis Basidiomycetes, yang berarti memiliki tubuh buah yang seringkali berbentuk seperti payung (disebut basidium). Mereka dinamai jamur lapuk putih karena mereka mampu mendegradasi substrat kayu yang berwarna kecoklatan (lignin) menjadi materi selulosa yang berwarna putih.

Beberapa jenis jamur yang umum digunakan dalam penghilangan zat warna tekstil ini antara lain:

Marasmius sp.
Marasmius sp.
Shaped like tiny umbrellas of a half centimetre across, these mushrooms are found in leaf litter. They have a leathery texture and the long thin stalks are also tough and wiry.
Phanerochaete chrysosporium
Phanerochaete chrysosporium
This fungi is belong to the family Corticiaceae. Its fruiting body forms a crust and located on the underside of a log.
Trametes versicolor
Trametes versicolor
This fungus is classified into Basidiomycetes. Trametes versicolor can make a fruiting body up to 10 cm broad, bracket to shelf-like or fan-shaped, attached along one side or just near the middle of one side.

Mekanisme dari Penghilangan Warna

Jamur lapuk putih memproduksi enzim-enzim pendegradasi lignin yang non-spesifik, yang dapat mendegradasi berbagai jenis zat pengotor organik, termasuk zat warna tekstil. Enzim-enzim yang diproduksi oleh jamur lapuk putih mengkatalis penguraian zat warna tekstili menggunakan mekanisme pembentukan radikal bebas. Metode ini sangatlah murah apabila ditinjau dari kelayakan ekonominya, dan yang paling penting, molekul zat warna dalam limbah dapat direduksi secara efektif menjadi komponen yang tidak berbahaya, bukannya malah turut memproduksi bahan kimia yang berbahaya atau zat padat yang menimbulkan permasalahan pembuangan lebih lanjut. Karena seperti yang teman-teman ketahui enzim merupakan protein, yang di alam dapat dengan mudah diuraikan menjadi asam amino.

Yah, semoga saja teknologi ini nantinya akan diterapkan dalam skala besar dan meluas. Pertama di industri tekstil, mungkin saja nantinya bisa meluas ke pengolahan limbah industri yang lain. Jadi nantinya benar-benar bisa terwujud industri-industri yang eco-friendly.

(6 votes, 3.83/5)

9 Comments »

  • michaeljubel (majari) said:

    kalau dalam skala besar, produksinya gimana ya? apa jamur-jamur tersebut tersedia dalam jumlah yang banyak? dan kalau ya, proses treatment nya ribet gak ya? gua gak kebayang nih yang biokimia gini2.. hehehe.. ada yang bisa kasi penjelasan? thx before..

  • handychristian (majari) said:

    Kalau skala besarnya, sampai sekarang sih belum ada, soalnya teknologi ini memang masih hot-hotnya dikembangkan terutama di Jerman (di Indonesia sendiri baru beberapa aja kok penelitian tentang ini). Nah penelitian yang udah ada, skalanya belum terlalu besar sih, paling baru skala beberapa galon limbah aja, tapi udah lumayan loh hasilnya.

    Kalau penelitian yang gw lakukan, sebelum treatmentnya jalan, jamurnya dibiakkin dulu di semacam medium, bisa pakai jerami atau palm oil fiber (bahasa gampangnya… sabut kelapa sawit, haha). Mediumnya dipilih 2 ini soalnya murah dan nggak susah didapet. Pembiakan jamurnya pun nggak susah, kita tinggal taroh-taroh aja potongan jamur yang sebelumnya udah dibiakkin di lab di atas mediumnya itu, nunggu beberapa waktu biar dia numbuh (beberapa hari), trus langsung siap dipake.

    Proses treatmentnya juga ada beberapa macem, ada yang jamurnya direndem sebentar di dalam limbahnya selama 15 menit, udah gitu limbahnya didiemin di bak penampung selama 6 jam untuk buat penghilangan warnanya optimal. Kalau skalanya ngga gitu gede (debit kecil), sebenernya air limbahnya dikucurin lewat medium berjamur itu aja warnanya udah bisa hilang. Enzimnya kerjanya instan soalnya.

    Jamurnya juga bisa dipakai beberapa kali ngerun jadi ngga boros, dan sebenernya kalo dikasih waktu yang cukup untuk regenerasi abis dipake, menurut gw sih dia bisa dipake terus menerus, tapi mesti nambahin mediumnya lagi sih, soalnya mediumnya pasti kemakan sama jamurnya.
    Semoga ngejawab..

  • aqi said:

    “(di Indonesia sendiri baru beberapa aja kok penelitian tentang ini)”

    Sedikit meralat quote diatas: penelitian mengenai decolorization dari limbah textile, zat warna azo dll udah dilakukan sejak lama oleh ITB (teknik lingkungan dan PAU waktu itu) sejak tahun 90-an. Bahkan penelitian mengenai hal ini adalah pioneer dibidangnya.
    Universitas australia aja ngirimin mahasiswanya untuk berguru di PAU buat meneliti tentang decolorization limbah textile.
    Sejak PAU bubar (tanda kutip).. penelitian mengenai hal ini menjadi kurang terdengar lagi…

    Tetapi penelitian decolorization limbah textile tetap dilakukan di Teknik Lingkungan meskipun tidak melulu memakai white rot fungi.
    Kalau tertarik coba sambangin perpus TL. Tiap tahunh pasti ada topik penelitian mengenai hal ini.
    PISS

    aqi
    Maju terus Indonesia

  • tary said:

    salam kenal..

    aq mau nanya.. mekanisme penyebaran jamur itu nyerang kayu?!
    jamur itu mengandung apa tho sehingga dia tu dapat mendegrasi lignin? selain lignin, jamur dpt mendegradasi selulose nga’?!
    kalau bs bagaimana cara mengatasinya?!

  • nono said:

    Terima kasih infonya,
    Bagaimana proses pengolahan limbah dengan metode ini, keberhasilan untuk penghilangan warnanya sampai seberapa?

  • JONY said:

    Met mlam….

    Aq jony Tekim, mau ty cara lain pengolahan limbah tekstil yang rmah lingkungan dan harganya murah itu apa y??

    Tolong skalian cara kerjanya, terima kasih.

  • Edy Suwito said:

    @aqi: betul, pembimbing kami malah lulusan teknik lingkungan ITB. Btw, di jerman, teknologi ini udah lebih maju, mereka menamakan teknologi ini sebagai sistem RITA. Sekarang kami mencoba mengembangkan sistem yang lebih efisien.

    @tary: jamur lapuk putih mengekskresikan enzim ekstraseluler yang non-spesifik, di antaranya lakase. Nah, enzim2 inilah yang mendegradasi lignin. Degradasi selulosanya bisa, kalau strain jamurnya mampu memproduksi enzim selulase. tapi, sejauh yang saya tau, hanya sedikit jamur lapuk putih yang bisa ekskresi selulase dalam jumlah yang cukup banyak.

    @nono: prosesnya adalah dengan cara imersi. detailnya mungkin nanti jadi artikel baru lagi. Keberhasilannya mendekati 100%.

    @Jony: dari hasil uji COD kami, limbah tekstil yang didegradasi dengan jamur lapuk putih ini, COD-nya turun dari sekitar 1000 menjadi 100-an. Cukup signifikan bukan? Namun, sayangnya, aplikasi teknologi ini untuk skala gede belum bisa dipublikasikan, karena masih tahap penelitian lebih lanjut. Saya sih, tidak tahu lagi teknik pengolahan lain yang ramah lingkungan sekaligus murah. Adanya juga yang mahal, dan warnanya tidak diolah (jadi, limbah keluaran treatmentnya masih berwarna).

    Semoga berkenan.

  • hanifa said:

    siang….
    Aq hanifa tekkim, tlg kasi tw kerakter zat pewarna tekstil yang gimana yang dapat didegradasi oleh jamur pelapuk putih itu? and kLo sinergi antara pelapuk putih Vs Zeolit itu bagus g??? kan penghilang warna plus penjernih.
    makasi…
    mohon bantuannya..!!

  • andri said:

    siang….
    aku andri kimia, aku pengen tau cara kerja dari mulai pembiakan jamur dan aplikasinya ke limbahnya…tolong dijelasin ya..
    terima kasih..
    mohon bantuannya ya…

Leave your comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled website. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.com.

Browse categories

Most Viewed

Most Discussed

Most Emailed